Kabupaten SukabumiKriminal dan Hukum

Belasan Penambang Liar Ditangkap, Enam Resmi Jadi Tersangka

Sukabuminow.com || 11 orang penambang ilegal alias gurandil di Kecamatan Ciemas ditangkap Satreskrim Polres Sukabumi. Hal itu diungkapkan Kapolres Sukabumi, AKBP Maruly Pardede, dalam konferensi pers di Mapolres Sukabumi, Sabtu (3/6/23).

Dari jumlah itu, enam di antaranya ditetapkan sebagai tersangka. Penangkapan sendiri dilakukan dalam operasi yang dilakukan 11 Mei 2023 di pertambangan tanpa izin (PETI) Blok Cibuluh, Desa/Kecamatan Ciemas, Kabupaten Sukabumi, petak 103b Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Hanjuang Barat BKPH Lengkong.

“Penetapan tersangka dilakukan setelah melewati pemeriksaan dan gelar perkara untuk pemenuhan alat bukti secara maraton,” tutur Maruly.

Keenam tersangka antara lain D (35 th) warga Desa Buniasih, Kecamatan Tegalbuleud, yang merupakan pemodal. Sisanya berperan sebagai penambang, yakni A (32 th), I (22 th), dan D (32 th), warga Kecamatan Simpenan. Selanjutnya A (22 th) warga Desa/Kecamatan Waluran, dan TS (38 th) warga Desa Kertajaya, Kecamatan Ciemas.

“Tersangka punya peran masing-masing. Mereka sudah punya pengalaman sampai 11 tahun bekerja sebagai penggali di lokasi tersebut,” sambungnya.

Ia menjelaskan, omzet yang didapatkan para tersangka dapat mencapai 200 juta rupiah hingga 500 juta rupiah per minggu. Saat ini, pihaknya masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui ke mana barang-barang tersebut dijual.

“Di kawasan itu ada kurang lebih 100 titik (penggalian). Kami juga sudah berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk melakukan upaya yang lebih masif sehingga kegiatan ini tidak terulang,” tegasnya.

Dari tangan para tersangka, polisi mengamankan barang bukti berupa lima unit motor yang digunakan untuk mengangkut hasil galian, 11 karung berisi tanah mengandung emas, dua kerekan, empat pahat, tiga palu, dan dua piring untuk mengecek kadar emas.

“Para tersangka disangkakan pasal 89 Ayat (1) Undang Undang RI No. 8 Tahun 2013 Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Perusakan Hutan dengan hukuman penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama 15 tahun,” ujarnya.

“Selanjutnya Pasal 158 Undang Undang RI No. 3 Tahun 2020 Tentang Perubahan Atas Undang Undang No. 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral Dan Batubara dengan ancaman pidana penjara paling lama lima tahun,” tandasnya. (Edo)

Editor : Andra Permana

Berita Terkait

Back to top button