“Satpol PP Goes To School”: Strategi Senyap Sukabumi Cegah Pelanggaran sejak Bangku Sekolah

Sukabuminow.com || Pengalaman di lapangan mengubah cara pandang Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dalam menangani kenakalan remaja. Dari operasi penertiban hingga penanganan pelanggaran ketertiban umum, pola yang sama terus berulang, dan sebagian besar berakar sejak usia sekolah.

Temuan inilah yang melatarbelakangi lahirnya program “Satpol PP Goes To School”, yang kini memasuki titik kedua pelaksanaan di SMAN 1 Surade, setelah sebelumnya digelar di SMAN 1 Kalibunder.

Kepala Satpol PP Kabupaten Sukabumi, Deni Yudono, mengungkapkan bahwa banyak kasus yang ditangani di lapangan sebenarnya bermula dari minimnya pemahaman sejak dini.

“Di lapangan, kami sering menemukan pelanggaran yang dilakukan remaja, mulai dari hal yang dianggap sepele hingga yang berpotensi melanggar hukum. Setelah ditelusuri, akar masalahnya hampir sama—kurangnya pemahaman dan kontrol diri,” ujar Deni di sela kegiatan, Selasa (14/4/26).

Deni menjelaskan, selama ini pendekatan penegakan hukum cenderung dilakukan setelah pelanggaran terjadi. Namun, pola tersebut dinilai tidak cukup efektif untuk memutus rantai masalah.

Dari berbagai operasi yang dilakukan, Satpol PP mencatat adanya kecenderungan meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan remaja yang dipengaruhi oleh lingkungan pergaulan dan media sosial.

Alih-alih terus berada di hilir persoalan, Satpol PP kini mencoba masuk ke hulu, yakni lingkungan sekolah.

“Kami tidak ingin hanya menyelesaikan akibat. Yang lebih penting adalah menyentuh penyebabnya. Karena itu kami masuk ke sekolah, berdialog langsung dengan pelajar,” jelasnya.

Dalam kegiatan tersebut, Deni didampingi Kepala Bidang Penegakan Peraturan Daerah, Ujang Soleh, Kepala Bidang Tibumtranmas, Adang Hidayat, Kepala Bidang Linmas dan Binsonil, Dikdik Supriyadi, serta melibatkan narasumber dari unsur TNI dan Polri.

Berbeda dengan penyuluhan formal, kegiatan di SMAN 1 Surade berlangsung seperti ruang investigasi sosial mini. Para siswa diajak mengurai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari mulai dari disiplin, tekanan lingkungan, hingga pengaruh digital.

Satpol PP tidak sekadar menyampaikan aturan, tetapi menggali perspektif siswa secara langsung.

Diskusi tersebut membuka fakta bahwa sebagian pelajar belum sepenuhnya memahami konsekuensi hukum dari tindakan yang dianggap biasa, seperti pelanggaran ketertiban hingga perilaku berisiko di ruang publik.

“Ketika kami ajak diskusi, banyak yang baru sadar bahwa tindakan kecil bisa berdampak besar. Ini yang menjadi titik masuk untuk membangun kesadaran,” kata Deni.

Menurut Deni, pengalaman menghadapi berbagai kasus di lapangan menjadi alasan kuat perubahan strategi ini. Ia menilai, penindakan tanpa edukasi hanya akan bersifat sementara.

Pendekatan dialogis dipilih agar pelajar tidak merasa dihakimi, melainkan diajak memahami.

“Kami belajar dari lapangan. Kalau hanya penindakan, efeknya tidak bertahan lama. Tapi kalau kesadaran sudah tumbuh, itu akan melekat,” tegasnya.

Program ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang Satpol PP Kabupaten Sukabumi dalam membangun ketertiban dari hulu. Sekolah diposisikan sebagai ruang paling efektif untuk menanamkan nilai dasar kesadaran hukum.

Langkah ini juga menjadi sinyal perubahan paradigma, bahwa menjaga ketertiban tidak hanya soal penegakan aturan, tetapi juga soal membangun pemahaman.

“Kami ingin program ini berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak sekolah. Harapannya, ke depan pelanggaran bisa ditekan karena kesadaran sudah terbentuk sejak dini,” pungkas Deni.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru