Tangis Seorang Ibu: Perpisahan Pilu dengan Samson yang Tak Terduga
Sukabuminow.com || Sabtu (22/2/25) malam tadi, Masjid Nurul Hidayah di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, Kabupaten Sukabumi, dipenuhi puluhan warga yang berkumpul dalam suasana haru. Mereka berdiri dalam barisan salat jenazah, bersiap melepas kepergian seorang pria yang mereka kenal baik, Samson, atau nama aslinya, Suherlan (33 th).
Di sudut masjid, seorang perempuan paruh baya berdiri lemas, matanya sembab menahan tangis. Dialah Elis, ibu dari Samson. Bersamanya, sang anak keduanya, Firli, ikut menyaksikan momen yang seakan tak nyata bagi mereka.
Berita Terkait :
- Samson di Mata Keluarga: Sosok Ayah Penyayang di Balik Kontroversi
- Samson Mondar-Mandir Bawa Golok, Warga Geram dan Berujung Tragis
Tepat pukul 18.00 WIB, ambulans Dokpol Polres Sukabumi berhenti di pelataran masjid, membawa jasad Samson yang sebelumnya diautopsi di RS Kramat Jati, Jakarta. Saat pintu ambulans terbuka, Elis nyaris tak sanggup berdiri.
“Saya belum sempat bertemu dengannya sejak ia dirawat di rumah sakit (Marzoeki Mahdi, Bogor),” ucap Elis dengan suara bergetar, air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Pikirannya melayang ke percakapan terakhir mereka. Saat itu, Samson meneleponnya dari kejauhan. Ada dua hal yang ia titipkan, anaknya dan satu pertanyaan yang masih menyisakan tanda tanya di benak Elis hingga kini.
“Titip anak, jangan sampai diserahkan ke ibunya,” begitu pesan Samson di ujung telepon. Lalu, di sela percakapan, ia bertanya: “Di mana menyimpan golok?”
Elis terdiam saat itu. Ia tak bertanya lebih lanjut, tak menyangka bahwa itu akan menjadi kata-kata terakhir dari putranya. Kini, semua yang tersisa hanya kenangan dan pertanyaan tanpa jawaban.
Seorang warga yang mengenal Samson turut mengenang sosoknya.
“Dia sering bersih-bersih masjid. Kalau enggak pagi buta sebelum Subuh, ya siang hari. Kadang juga bersalawat sendirian di sini,” tutur pria yang enggan disebutkan namanya.
Saat jenazahnya kembali dimasukkan ke dalam ambulans setelah disalatkan, Elis memandangnya dengan mata yang nyaris tak berkedip. Dalam diam, ia merasakan kepedihan yang tak terlukiskan.
Di hatinya, ia ingin memeluk anaknya sekali lagi. Tapi takdir sudah berkata lain.
Kepergian Samson meninggalkan luka di hati keluarga dan orang-orang yang dekat dengannya. Kini, tubuhnya yang terbujur kaku telah menempati tempat peristirahatan abadi di TPU Pasir Pogor. (Edo)
Redaktur : Andra Permana




