Situs Bunker Jepang di Sukabumi: Dari Strategi Perang Menjadi Sarana Edukasi Sejarah
Sukabuminow.com || Di balik hijaunya perbukitan Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, berdiri kokoh sebuah struktur beton yang menjadi saksi bisu masa penjajahan Jepang di Indonesia. Dikenal sebagai Situs Bunker Jepang Pos Pengintai Pinangjajar, bangunan ini dahulu berfungsi sebagai titik strategis pengintaian militer Jepang selama era Perang Dunia II.
Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disbudpora) Kabupaten Sukabumi, Yudi Mulyadi, menjelaskan bahwa keberadaan bunker ini tidak lepas dari kepentingan pertahanan Jepang di pesisir selatan Jawa Barat. Letaknya yang berada di ketinggian kawasan Kampung Pinangjajar, Desa Sukamukti, sangat strategis untuk mengawasi jalur laut maupun pergerakan di darat.
“Pos ini dibangun Jepang sebagai bagian dari sistem pengawasan militer. Bentuknya semi-bawah tanah dengan dinding tebal dan ruang dalam yang tersembunyi, dimaksudkan agar aman dari serangan dan memudahkan pengamatan wilayah sekitar,” jelas Yudi, Rabu (11/6/25).
Struktur Fisik dan Lokasi Strategis
Bunker tersebut memiliki ukuran yang cukup besar, yakni tinggi sekitar 2 meter, panjang 7 meter, lebar 3 meter, dengan kedalaman sekitar 6 meter. Di bagian dalamnya terdapat ruang tambahan dengan kedalaman 3 meter yang diduga kuat difungsikan sebagai ruang komunikasi atau perlindungan dari serangan udara.
Situs ini berada tidak jauh dari Jalan Nasional Kiaradua–Surade, tepat di jalur strategis Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp), yang kini menjadi salah satu destinasi unggulan di Kabupaten Sukabumi.
“Posisinya sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bagian dari wisata edukatif sejarah, apalagi berdekatan dengan kawasan geopark yang sudah dikenal luas,” imbuh Yudi.
Upaya Penataan dan Pelestarian
Seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan sejarah, Pemerintah Kabupaten Sukabumi mulai melakukan penataan di area situs sejak tahun 2018. Penataan awal meliputi pembangunan gerbang, penambahan papan informasi, serta akses jalan menuju lokasi.
“Kami di Disbudpora melakukan pendekatan edukatif dalam penataan situs ini, agar pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alamnya, tetapi juga memahami nilai sejarahnya,” kata Yudi.
Selain pemerintah, warga dan pegiat lingkungan turut ambil bagian dalam upaya penghijauan dengan menanam berbagai jenis pohon di sekitar situs. Aksi ini dilakukan untuk menciptakan suasana yang nyaman dan mendukung kelestarian kawasan.
Potensi Edukasi dan Penelitian
Saat ini, situs bunker terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya masuk. Disbudpora mengimbau pengunjung untuk menjaga kebersihan dan tidak merusak struktur bangunan bersejarah tersebut.
Yudi juga mengungkapkan bahwa bunker di Pinangjajar bukan satu-satunya yang ditemukan di Waluran. Berdasarkan catatan dan temuan lapangan, terdapat empat titik bunker di wilayah Desa Sukamukti, namun baru situs Pinangjajar yang telah ditata dan dibuka untuk publik.
“Situs ini berpotensi dikembangkan sebagai ruang belajar sejarah bagi generasi muda, sekaligus menjadi daya tarik baru wisata berbasis budaya dan edukasi di Sukabumi,” tegasnya.
Dengan penataan yang terus berlanjut dan penguatan narasi sejarah, Situs Bunker Jepang Pos Pengintai Pinangjajar tidak hanya menjadi peninggalan masa lalu, tetapi juga bagian dari masa depan Sukabumi sebagai daerah yang kaya warisan sejarah dan budaya.
Reporter: Andra
Editor: Andra Permana




