Opini

Ramadan dan Perang Melawan Corona

Oleh : Mahbubillah (Staf Subag Komunikasi Pimpinan Pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi)

Dalam sejarah Islam, terdapat dua perang yang terjadi pada bulan Ramadan, yaitu Perang Badar dan Futuh Mekah (pembebasan kota Mekah). Perang Badar terjadi pada bulan Ramadan tahun kedua setelah hijrah, sementara Futuh Mekah terjadi pada tahun kedelapan Hijriyah.

Para ulama bersepakat bahwa kewajiban berpuasa Ramadan disyariatkan pada tahun kedua Hijriyyah sebulan sebelum terjadinya perang badar. Lalu apakah Rasul dan para sahabatnya tetap melaksanakan ibadah puasa.

Dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Sa’id al-Khudri berkata: “Kami berperang bersama Rasulullah pada tanggal enam belas Ramadhan. Di antara kami ada yang berpuasa, ada pula yang berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka, dan orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa”.

Dari riwayat ini bisa diambil pelajaran, bahwa orang yang sedang berperang bisa mengambil rukhsoh (keringanan) untuk tidak melaksanakan ibadah puasa. Pengertrian rukhsah dalam kaidah ushul fikih adalah keringanan bagi manusia mukallaf dalam melakukan ketentuan Allah SWT pada keadaan tertentu karena ada kesulitan. Beberapa ulama mendefisinikan rukhsah sebagai kebolehan melakukan pengecualian dari prinsip umum karena kebutuhan atau keterpaksaan.

Konsep rukhsoh dalam Islam dimaksudkan sebagai keringanan dari Allah kepada orang tertentu dan dalam kondisi tertentu. Sebab, pada faktanya ada beberapa kesusahan yang menjadikan terhalang untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu. Konsep rukhsoh sendiri bisa ditemukan dalam beberapa ayat al-Qu’an. Salah satunya ada di Surat al-Hajj ayat 78 yang artinya “Dan Dia tidak akan menjadikan kamu sekalian kesempitan dalam urusan agama”.

Sejak terdeteksi untuk pertama kalinya di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Tiongkok pada bulan Desember 2019 yang lalu dan dinyatakan sebagai pandemi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tanggal 11 Maret 2020, kasus infeksi virus corona di seluruh dunia mencapai angka dua juta kasus. Virus corona telah menjangkiti hampir seluruh negara di dunia ini, tak terkecuali Indonesia.

Masyarakat dunia saat ini tengah waspada terhadap kondisi perang dengan musuh yang tidak nyata, yang bergerak cepat mengancam nyawa manusia. Layaknya perang, virus corona mampu memorakporandakan seluruh sendi kehidupan manusia. Kesedihan, kegelisahan, ketakutan dan kepanikan terjadi dimana mana. Angka terkonfirmasi positif virus corona terus meningkat yang dibarengi dengan angka kematian yang terus mengalami penambahan.

Bukan hanya sendi kesehatan yang terkoyak, ekonomi, sosial, budaya juga agama mendapat guncangan yang nyata imbas dari wabah virus corona. Tak salah apabila narasi “Perang Melawan Corona” terus didengungkan, mengingat penularannya yang sangat cepat, angka kematian yang begitu tinggi, dan daya rusak yang amat besar terhadap perekonomian.

Kondisi seperti ini memungkinkan umat Islam mengambil rukhsoh (keringanan) dalam beribadah. Hanya perlu dijelaskan bahwa yang berhak atas rukhsoh adalah orang tertentu dan dalam keadaan tertentu pula. Dalam konteks penyebaran virus corona orang yang memiliki resiko paling tinggi dan berada di wilayah zona merahlah yang berhak mendapatkan rukhsoh tersebut.

Rukshoh jenis ini dalam Madzhab Hanafiyyah dikategorikan sebagai “kebolehan meninggalkan yang wajib apabila pelaksanaannya amat berat karena adanya kesulitan”.
Namun bagi mereka yang berada di zona aman, melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan ketentuan tentu akan lebih baik daripada tidak berpuasa. Sebab, menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh para ilmuwan di University of Southern California (UCLA) Amerika Serikat, menyebutkan bahwa puasa dapat menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam kesehatan, khususnya daya tahan tubuh. Dalam penelitian tersebut, para peneliti menemukan bahwa rasa lapar memicu sel-sel induk dalam tubuh memproduksi sel darah putih baru untuk melawan infeksi. Hal ini selaras dengan sabda Rasul, “Berpuasalah kalian, niscaya akan sehat”.

Dan akhirnya, Marhaban Ya Ramadan, semoga dengan datangnya bulan Ramadan kita semua terhindar dari segala musibah. Amin Ya Allah.

Related Articles

Close
Close