Sukabuminow.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, terus berupaya menekan angka stunting. Tidak hanya dilakukan melalui perbaikan gizi dan layanan kesehatan anak, Pemkab Sukabumi kini memperkuat strategi dari hulu melalui pengendalian kelahiran dan pengaturan jarak kehamilan bagi keluarga berisiko stunting.
Langkah tersebut diwujudkan melalui pelayanan Keluarga Berencana (KB) Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) jenis implant yang menyasar pasangan usia subur dan keluarga rawan stunting di Desa Pulosari, Kecamatan Kalapanunggal, dalam rangka peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026, Rabu (10/6/26).
Kepala Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Sukabumi, Feri Budiman, mengatakan bahwa program KB saat ini memiliki peran strategis dalam mendukung percepatan penurunan stunting.
Menurutnya, pengaturan jumlah anak dan jarak kelahiran merupakan salah satu faktor penting untuk memastikan setiap anak memperoleh perhatian, asupan gizi, dan layanan kesehatan yang optimal sejak dalam kandungan hingga masa pertumbuhan.
“Program KB bukan hanya berkaitan dengan pengendalian pertumbuhan penduduk, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam membangun keluarga berkualitas. Melalui pengaturan kehamilan yang terencana, risiko stunting dapat ditekan sejak awal,” ujar Feri.
Ia menjelaskan, pelayanan yang diberikan dalam kegiatan tersebut didominasi pemasangan implant sebagai salah satu metode kontrasepsi jangka panjang yang dinilai efektif dan aman. Selain itu, tersedia pula layanan kontrasepsi pil dan suntik bagi masyarakat yang membutuhkan.
Sebanyak 50 akseptor menjadi sasaran layanan, dengan prioritas pasangan usia subur yang masuk kategori keluarga berisiko stunting. Kelompok ini dinilai membutuhkan pendampingan khusus agar mampu merencanakan kehamilan secara lebih matang dan sehat.
Feri menilai, pendekatan keluarga menjadi kunci dalam menyelesaikan persoalan stunting yang hingga kini masih menjadi perhatian nasional. Sebab, sebagian besar faktor risiko stunting berawal dari kondisi keluarga, mulai dari kesiapan menikah, perencanaan kehamilan, hingga pola pengasuhan anak.
“Ketika keluarga mampu merencanakan kehamilan dengan baik, maka peluang lahirnya generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting akan semakin besar. Karena itu, program KB harus dipahami sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, DPPKB Kabupaten Sukabumi menggandeng PT PLN Indonesia Power UBP Kamojang Unit PLTP Gunung Salak yang memberikan dukungan sebagai fasilitator untuk memperluas akses layanan kepada masyarakat.
Kolaborasi antara pemerintah dan dunia usaha tersebut dinilai menjadi contoh konkret bagaimana percepatan penurunan stunting memerlukan keterlibatan berbagai pihak, tidak hanya mengandalkan anggaran pemerintah semata.
Feri menambahkan, penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang juga menjadi salah satu fokus pemerintah karena memiliki tingkat efektivitas yang tinggi dalam mencegah kehamilan yang tidak direncanakan. Dengan demikian, keluarga dapat lebih siap secara ekonomi, kesehatan, dan psikologis dalam membesarkan anak.
“Di tengah upaya pemerintah pusat mempercepat pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045, Kabupaten Sukabumi terus memperkuat program keluarga berencana sebagai bagian dari strategi jangka panjang menyiapkan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing,” tegas Feri.
Menurut Feri, keberhasilan menekan stunting tidak cukup hanya mengandalkan intervensi pada anak yang sudah lahir, tetapi harus dimulai sejak perencanaan keluarga agar setiap kelahiran benar-benar berlangsung dalam kondisi yang sehat, terencana, dan berkualitas.
“Semakin banyak keluarga yang memahami pentingnya perencanaan kehamilan dan memanfaatkan layanan KB, maka semakin besar pula peluang kita menciptakan generasi yang sehat dan terbebas dari stunting di masa depan,” pungkasnya.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
