AdvertorialKabupaten SukabumiPemerintahan

Jalur Sibuk Sukabumi Jadi Titik Rawan Sampah, DLH Minta Perubahan Perilaku

Sukabuminow.com || Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menyoroti meningkatnya volume sampah di sepanjang jalur utama, khususnya di wilayah utara yang memiliki tingkat mobilitas tinggi. Kondisi ini dinilai bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan sudah menjadi isu strategis yang berdampak pada lingkungan, kesehatan, hingga keselamatan pengguna jalan.

Kepala DLH Kabupaten Sukabumi, Nunung Nurhayati, menegaskan bahwa tingginya aktivitas masyarakat di sejumlah ruas jalan nasional dan provinsi berbanding lurus dengan peningkatan timbulan sampah.

“Ruas jalan dengan mobilitas tinggi cenderung menjadi titik akumulasi sampah. Jika tidak ditangani secara sistematis, ini bisa berdampak pada penyumbatan drainase, banjir lokal, hingga menurunnya kualitas lingkungan,” ujar Nunung di sela korve jalan nasional/provinsi wilayah utara, Rabu (22/4/26).

Ia menjelaskan, wilayah yang menjadi perhatian meliputi jalur Sukalarang hingga Cicurug, termasuk Lingkar Selatan, Kadudampit, Jalan Palabuhan II, serta ruas Cibadak–Warungkiara. Kawasan tersebut menjadi urat nadi aktivitas ekonomi dan transportasi masyarakat.

Menurutnya, persoalan sampah di jalur utama bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan perubahan perilaku kolektif masyarakat.

“Kesadaran publik menjadi kunci. Kami tidak bisa bekerja sendiri. Jika pola buang sampah sembarangan masih terjadi, maka upaya apa pun akan selalu tertinggal dari laju timbulan sampah,” tegasnya.

DLH juga menyoroti dampak jangka panjang jika kondisi ini dibiarkan. Selain merusak estetika wilayah, sampah yang menumpuk di bahu jalan dan saluran air berpotensi memicu pencemaran serta mempercepat degradasi lingkungan.

Nunung menambahkan, pihaknya saat ini lebih menekankan pendekatan kolaboratif dan preventif, termasuk optimalisasi pengangkutan sampah serta penguatan edukasi kepada masyarakat dan pelaku usaha di sepanjang jalur tersebut.

“Penanganan sampah harus bergeser dari sekadar reaktif menjadi preventif. Edukasi dan partisipasi aktif masyarakat menjadi prioritas agar persoalan ini tidak terus berulang,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebersihan jalan bukan hanya soal kenyamanan visual, tetapi berkaitan langsung dengan citra daerah dan daya saing wilayah.

“Lingkungan yang bersih mencerminkan kualitas tata kelola daerah. Ini berdampak pada sektor pariwisata, investasi, hingga kepercayaan publik,” pungkas Nunung.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

Facebook Notice for EU! You need to login to view and post FB Comments!

Berita Terkait

Back to top button

You cannot copy content of this page