Opini

Pembiasaan Positif Di Tengah Badai Corona

Oleh : Mahbubillah (Pelaksana Pada Sekretariat Daerah Kabupaten Sukabumi)

Sejak diumumkan oleh Presiden Joko Widodo tanggal 2 Maret 2020 yang lalu perihal ditemukannya kasus pertama di Kota Depok, Coronavirus Disease 2019 (COVID 19) atau yang lebih populer dengan sebutan Virus Corona, menjadi topik yang paling banyak dibicarakan di masyarakat, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Berbagai macam reaksi muncul di masyarakat dalam menyikapi virus yang sangat cepat dalam penyebarannya ini. Sebagian besar masyarakat merasakan kepanikan yang luar biasa. Namun ada juga sebagian yang menganggap remeh masalah virus ini.

Berdasarkan kajian tim Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indoensia (FKM UI), apabila tidak ada langkah disiplin memutus rantai penyebaran, tidak ada Alat Pelindung Diri yang cukup, dan pelayanan medis yang tidak memadai, sekitar 70% warga Indonesia bisa tertular Corona dan 1,5 juta lebih penduduk bakal meninggal dunia.

Namun dibalik peristiwa mewabahnya virus ini dan perasaan panik di kalangan masyarakat, ada hikmah atau hal positif yang sebenarnya bisa kita petik. Salah satunya dan merupakan hal yang paling utama adalah pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.

Seiring mewabahnya virus, kepedulian masyarakat terhadap lingkungan yang bersih dan sehat semakin meningkat. Setiap orang karena kesadarannya akan bahaya virus corona ini telah melakukan tindakan yang dapat memutus mata rantai penyebarannya. Dari mulai cuci tangan sebelum melakukan pekerjaan, memakai masker jika bepergian, mengkonsumsi makanan yang dapat meningkatkan imunitas tubuh sampai berjemur dan berolahraga yang dilakukan secara rutin.

Upaya pencegahan penyebaran virus inipun tidak hanya dilakukan secara individual, bahkan secara kelembagaan, banyak instansi baik pemerintah maupun swasta telah melaksanakan upaya memutus penyebaran virus dengan menyemprotkan disinfektan dan memasang sarana cuci tangan yang dipasang di sudut-sudut kantor.

Membangun kebiasaan baik, atau sebaliknya meninggalkan kebiasaan buruk, bukanlah hal yang mudah dilakukan. James Clear penulis buku Atomic Habits menggambarkan 4 cara yang bisa dilakukan untuk membangun kebiasan baik.

Empat langkah tersebut adalah pertama, jadikan kebiasaan tersebut jelas atau nyata. Kita bisa memfokuskan pada kebiasaan apa yang ingin dibangun dan kapan kita akan mengerjakannya. Misalnya, kita akan membiasakan cuci tangan sebelum masuk kerja, atau kita akan melakukan olahraga selama 30 menit sebelum berangkat ke kantor. Kedua, jadikan kebiasaan itu menarik. Manusia cenderung mengikuti kebiasaan baik dan menarik yang dilakukan oleh lingkungannya. Apabila kita ingin hidup sehat, maka kita harus berteman dengan orang yang memiliki kebiasaan hidup sehat. Ketiga, jadikan kebiasaan itu mudah. Kita bisa memulainya dengan mengerjakan hal yang sederhana dan mudah dikerjakan. Dan keempat, jadikan kebiasaan itu memuaskan. Sebab Kita lebih mungkin melakukan sesuatu kebiasaan yang mengulang manakala sesuatu tersebut memuaskan.

Pembiasaan positif inilah yang seharusnya dilakukan secara konsisten dan terus menerus. Stephen R Covey pernah menulis bahwa kebiasaanmu adalah yang menentukan takdirmu. Hal ini berarti, kebiasaan baik yang dilakukan secara berulang-ulang akan menghasilkan sesuatu yang baik pula. Pun demikian, kebiasaan buruk yang dikerjakan secara terus menerus akan berakibat buruk pada kehidupan kita.

Para pakar menyebutkan, manusia adalah creature of habit, atau mahluk yang terbentuk dari kebiasaan. Kebiasaan sendiri bisa terbentuk bila sebuah pekerjaan dijalankan dengan rutin dan terus menerus. Maka momentum badai corona ini harus juga dimaknai sebagai upaya untuk membiasakan hidup bersih dan sehat.

Tags
Close
Close