Kabupaten SukabumiKriminal dan HukumPeristiwa

Demi Uang Cepat, Pemuda Nekat Curi Tembaga dan Berakhir Diamuk Massa di Sukabumi

Sukabuminow.com || Wajah pemuda itu penuh debu dan keringat. Tangannya gemetar saat mencoba menyeret potongan besi dari sudut bangunan tua yang sunyi. Ia mungkin tak menyangka, di balik tembok pabrik kosong itu, nasibnya akan berubah dalam hitungan menit.

Sekitar pukul 08.00 WIB, Senin (2/2/26), langkahnya terhenti. Bukan oleh polisi, bukan pula oleh satpam, melainkan oleh teriakan warga yang mulai menyadari ada gerak-gerik mencurigakan di bekas pabrik Olimpic, Desa/Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Suasana di pangkalan ojek yang tadinya riuh mendadak hening, lalu berubah menjadi kerumunan. Warga berlarian menuju sumber suara. Di sanalah mereka mendapati seorang pemuda dengan karung berisi tembaga, kabel, dan besi, berdiri kaku tanpa mampu berkata apa-apa.

“Awalnya dia cuma diam, mukanya pucat. Kayak pasrah,” tutur Imran, salah satu warga yang menyaksikan langsung peristiwa itu.

Dalam sekejap, amarah massa meledak. Bogem mendarat, teriakan bercampur makian. Pemuda itu terjatuh, mencoba melindungi wajahnya dengan kedua tangan. Lebam mulai tampak di pipinya, darah menetes dari sudut bibir.

“Wajahnya rusak, jelas habis diamuk. Untung cepat ada aparat TNI yang melerai. Kalau telat sedikit, bisa fatal,” kata Imran.

Pabrik tempat ia beraksi memang sudah lama kosong. Bangunan kusam, pintu berkarat, dan minim pengawasan menjadi ruang sunyi yang menggoda bagi siapa pun yang terdesak kebutuhan.

“Satpam cuma jaga malam. Siang mah kosong. Pabriknya sudah lama mati,” tambah Imran.

Tak ada yang benar-benar tahu apa yang mendorong pemuda itu nekat mencuri. Namun di tengah situasi ekonomi yang kian sulit, harga tembaga yang melambung menjadi harapan instan bagi banyak orang yang terjepit.

Bagi warga, ia adalah pencuri. Tapi bagi sebagian yang melihat dari dekat, ia juga tampak seperti anak muda yang tersesat dan mencari jalan pintas, lalu terperosok dalam kekerasan.

Kini, pemuda itu duduk terdiam di ruang tahanan Polsek Warungkiara. Wajahnya masih lebam, bajunya kotor, dan matanya kosong menatap lantai. Tak ada lagi besi, tak ada lagi tembaga yang tersisa hanya penyesalan dan proses hukum yang menantinya.

Peristiwa ini bukan sekadar tentang pencurian. Ia menjadi potret kecil realitas sosial di Sukabumi: tentang bangunan terbengkalai, pengawasan yang longgar, harga logam yang menggiurkan, dan anak muda yang memilih jalan salah demi bertahan hidup.

Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana

Berita Terkait

Back to top button

You cannot copy content of this page