Sukabuminow.com || Pantai Cimaja di Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memiliki modal kuat untuk naik kelas sebagai destinasi wisata selancar bertaraf internasional. Konsistensi ombak dan komunitas peselancar yang telah terbentuk selama bertahun-tahun menjadi kekuatan utama kawasan tersebut.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi Ali Iskandar mengatakan karakter ombak Cimaja menjadi pembeda dibandingkan sejumlah destinasi selancar lainnya. Ombak di kawasan tersebut dinilai relatif konsisten dan tidak terlalu bergantung pada perubahan musim.
“Cimaja itu punya daya tarik yang berbeda dengan tempat lainnya. Di sini hampir setiap saat ombaknya bagus dan tidak mengenal cuaca,” ujar Ali saat ditemui dalam rangkaian Cimaja Boardrider Open Pro Surf Competition 2026, Sabtu (15/8/26).
Menurut Ali, potensi tersebut semakin kuat karena Cimaja telah memiliki komunitas peselancar lokal yang terhubung dengan pencinta olahraga selancar dari berbagai negara.
Ekosistem itu sudah dibangun sekitar satu dekade. Karena itu, pengembangan Cimaja tidak perlu dimulai dari nol.
Ali menilai penyelenggaraan Cimaja Boardrider Open Pro 2026 harus dilihat lebih jauh daripada sekadar kompetisi olahraga. Event tersebut dapat menjadi instrumen promosi untuk memperkenalkan Cimaja kepada wisatawan nasional dan mancanegara.
Semakin banyak peselancar dan wisatawan yang datang, semakin besar pula peluang belanja wisata terjadi di kawasan tersebut.
“Yang terpenting, kegiatan ini bisa menjadi daya tarik. Semakin banyak orang datang, semakin banyak pula peluang spending money terjadi. Itu yang kemudian membuat pariwisata bisa semakin naik kelas,” katanya.
Efek ekonominya dapat dirasakan oleh berbagai sektor. Penginapan, kuliner, transportasi, penyewaan perlengkapan selancar, hingga usaha masyarakat sekitar berpeluang mendapatkan manfaat dari meningkatnya kunjungan.
Namun, potensi besar tersebut membutuhkan dukungan fasilitas dan tata kelola kawasan yang lebih kuat.
Ali mengungkapkan, salah satu persoalan yang masih dihadapi pemerintah adalah status aset di sekitar kawasan Pantai Cimaja. Sebagian lahan dan akses jalan masih dikuasai pihak swasta.
Kondisi tersebut membuat ruang intervensi pemerintah menjadi terbatas. Sebab, pembangunan dan pemeliharaan fasilitas publik pada prinsipnya membutuhkan kepastian penguasaan aset oleh pemerintah.
“Kami berharap dengan dukungan Pak Gubernur, lahan sekurang-kurangnya lima hektare sebagaimana yang sudah diperkirakan itu bisa dikuasai dan kemudian dikerjasamakan, atau diserahkan kepada pemerintah daerah untuk pengembangan wisata,” tutur Ali.
Jika kepastian lahan tersebut dapat diwujudkan, pemerintah daerah akan memiliki ruang lebih besar untuk menata kawasan. Fasilitas pendukung pariwisata juga dapat dikembangkan secara lebih terarah.
Ali mengakui keterbatasan fiskal daerah menjadi tantangan lain. Sejumlah fasilitas yang sebelumnya dibangun pemerintah kini membutuhkan pemeliharaan, tetapi perbaikannya tidak selalu dapat dilakukan secara optimal.
Karena itu, kolaborasi dengan sektor swasta dinilai menjadi salah satu jalan keluar.
“In Syaa Allah dengan hadirnya wisatawan yang menjadikan ini daya tarik, bahkan kemudian bisa dikerjasamakan dengan pihak swasta untuk berkolaborasi,” ujarnya.
Pengembangan Cimaja akhirnya tidak hanya berbicara tentang ombak. Kepastian lahan, fasilitas, promosi, investasi, dan keterlibatan masyarakat menjadi satu mata rantai yang menentukan apakah potensi surfing benar-benar mampu menggerakkan ekonomi Sukabumi.
Dengan karakter ombak yang kuat dan jaringan komunitas internasional yang telah terbentuk, Cimaja memiliki modal awal yang cukup. Tantangannya kini adalah memastikan potensi tersebut diterjemahkan menjadi destinasi wisata yang tertata, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat pesisir.
Reporter: Iwan
Redaktur: Andra Permana
