Kabupaten SukabumiKesehatan

RSUD Palabuhanratu Peringati Hari Epilepsi Sedunia

ads

Sukabuminow.com || Penyakit epilepsi. Yang selama ini diduga akibat faktor keturunan atau genetika. Ternyata hanya mitos semata. Hal itu diungkapkan Dokter Spesialis Syaraf RSUD Palabuhanratu : dr Inge Angelia Sigit Sp.S. Dalam peringatan Hari Epilepsi Sedunia. Di RSUD Palabuhanratu. Senin (12/8/19).

Ia mengatakan. Epilesi merupakan penyakit yang diakibatkan dari cetusan listrik di otak. Yang berlebihan. Adapun gejalanya bermacam-macam. Namun yang lebih dikenal. Dalam bentuk kejang.

“Ada 3 jenis epilepsi. Umum. Vokal. Dan yang tidak terklasifikasi. 50 persen di antaranya. Tidak pernah diketahui penyebabnya. Kalau genetik kurang dari 10 persen. Jadi faktor genetik itu hanya mitos. Memang ada. Tapi tidak sampai melewati angka 10 persen,” tuturnya usai kegiatan.

Yang lebih mengejutkan. Gejala epilepsi tak hanya kejang. Seperti pada umumnya. Namun si penderita epilepsi. Juga menunjukkan gejala bengong.

dr Inge Angelia Sigit Sp.S. Foto : Sukabuminow

“Bengong juga termasuk gejala epilepsi. Tapi harus dibuktikan dengan pemeriksaan. Harua di analisa ulang. Dan gejala yang muncul. Harus terjadi lebih dari satu hari,” terangnya.

Baca Juga :

Sejauh ini. Lanjut Inge. Epilepsi umum lebih banyak ditemui. Dibanding epilepsi vokal. Penyakit tersebut juga kerap menyerang usia produktif. Yakni remaja hingg dewasa.

“Itu yang biasa kami tangani. Usia produktif. Epilepsi juga menyerang anak. Tapi itu ditangani oleh dokter spesialis anak,” paparnya.

Inge meyakinkan. Bahwa penderita epilepsi memiliki harapan sembuh. Dengan syarat pengobatan teratur dan berkesinambungan. Serta dukungan peniu dari keluarga.

“Harus berobat terus. Minimal 3 hingga 5 tahun. Kalau pengobatan dihentikan. Bisa kembali lagi. Epilepsi itu penyakit. Bukan akibat guna-guna atau bahkan kutukan,” urainya.

“Penderita epilepsi. Harus benar-benar memperhatikan beberapa hal. Jangan minum alkohol. Kafein. Cokelat. Hindari juga pancaran sinar berlebihan. Seperti dari komputer dan matahari,” bebernya.

Salah satu peserta. Pada Hari Epilepsi Sedunia : Rusmiati (50). Warga Palabuhanratu. Mengaku sangat terbantu. Dengan saran dan masukan. Dari dokter Inge. Ia mengaku mendapatkan perubahan signifikan. Dalam proses pengobatan anaknya. Yang menderita epilepsi.

“Anak saya menderita epilepsi. Sejak usia 6 bulan. Sempat sembuh setelah berobat ke Sukabumi. Tapi dihentikan. Ternyata jadi lagi. Sekarang anak saya usianya 35 tahun. Berobat lagi ke dr Inge. Alhamdulillah ada kemajuan. Jarang kambuh,” terangnya.

“Yang saya suka daei metode pengobatannya. Pasien tidak harus dibawa. Cukup sebulan sekali. Tapi saya konsultasi dan ngambil obat setiap minggu,” ujarnya.

Di tempat sama. Humas RSUD Palabuhanratu : Billy Agustian. Menjelaskan peringatan Hari Epilepsi Sedunia. Merupakan yang pertama kali. Digelar di RSUD Palabuhanratu. Pesertanya berjumlah 100 orang. Dari seluruh Puskesmas se-wilayah IV. Termasuk beberapa dari Provinsi
Banten.

“Hari Epilepsi Sedunia jatuh pada 26 Maret setiap tahun. Namun karena satu dan lain hal. Harus di geser ke hari ini. Ini baru pertama kali digelar. Untuk tahun kedua. Kita ingin digelar di tempat terbuka. Dan lebih banyak peserta,” tutupnya. (Ridwan HMS)

Editor : Andra Permana || E-mail Redaksi : sukabuminow8@gmail.com

Tags

Related Articles

Close