Sukabuminow.com || Persoalan rumah tidak layak huni (rutilahu) masih menjadi pekerjaan besar bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim), jumlah rutilahu di wilayah ini masih mencapai sekitar 24 ribuan unit total keseluruhan. Dari jumlah itu, 14 ribu unit di antaranya telah diusulkan untuk direhab dari tahun 2025 baik dari program pemerintah pusat, provinsi, maupun dari APBD Kabupaten Sukabumi.
Di tengah keterbatasan anggaran daerah, pemerintah menegaskan bahwa percepatan pengentasan rutilahu tidak dapat hanya bergantung pada APBD, melainkan perlu diperkuat melalui kolaborasi masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah desa hingga kecamatan.
Kepala Bidang Perumahan dan Kawasan Permukiman Disperkim Kabupaten Sukabumi, Rudi Abdullah, menegaskan pentingnya gerakan gotong royong sebagai kekuatan sosial yang selama ini masih hidup kuat di tengah masyarakat Sukabumi.
“Penanganan rumah tidak layak huni tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Dibutuhkan keterlibatan semua pihak, baik dunia usaha, pemerintah kecamatan, desa, maupun masyarakat. Semangat gotong royong inilah yang menjadi kunci percepatan,” ujar Rudi, Jumat (5/6/26).
Ia menambahkan, berbagai inisiatif berbasis swadaya masyarakat telah menunjukkan hasil positif, salah satunya pada program bedah rumah di Kampung Talagasari, Desa Bojongsari, Kecamatan Jampangkulon, yang saat ini memasuki progres hari ke-22 pembangunan.
Menurutnya, model kolaborasi seperti itu dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Kabupaten Sukabumi dalam mempercepat peningkatan kualitas hunian warga kurang mampu.
“Contoh di Jampangkulon ini sangat baik. Ada kepedulian dari pengusaha, Forkopimcam, dan masyarakat yang bersama-sama membantu warga. Ini bisa menjadi inspirasi untuk wilayah lain,” katanya.
Rudi juga menegaskan bahwa keterbatasan fiskal daerah menjadi tantangan tersendiri, sehingga inovasi pembiayaan berbasis partisipasi sosial menjadi salah satu strategi yang terus didorong.
Ia berharap, gerakan kolektif ini tidak hanya berhenti pada satu program, tetapi berkembang menjadi gerakan sosial berkelanjutan yang mampu menurunkan angka rutilahu secara signifikan.
“Kalau semua pihak bergerak bersama, kami optimistis angka rutilahu di Kabupaten Sukabumi bisa terus ditekan. Ini bukan hanya soal rumah, tetapi juga soal martabat dan kualitas hidup masyarakat,” tutupnya.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
