Sukabuminow.com || 6 Januari 2025, matahari mulai tenggelam di Desa Cibadak, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Sukabumi. Pikpik, remaja 13 tahun yang ceria meski mengidap epilepsi, berpamitan pada keluarganya. “Aku mau ke rumah Paman di Cibaregbeg,” katanya dengan senyum yang tak pernah hilang. Tak ada yang tahu, kalimat itu akan menjadi awal dari misteri panjang yang menyesakkan.
Selawat di Tengah Malam
18 Januari 2025, pukul 03.30 WIB dini hari. Di sebuah pos ronda Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor, seorang anggota Linmas tersentak mendengar suara lirih seseorang melantunkan selawat. Suara itu bukan berasal dari pengeras suara masjid, melainkan dari luar. Di tengah gelap, seorang anak dengan tubuh kurus berdiri tak jauh dari pos.
“Kamu siapa?” tanya anggota Linmas dengan hati-hati. Anak itu hanya berkata, “Saya Pikpik.” Suaranya parau, tetapi ada keteguhan yang aneh di matanya.
Kepanikan di Desa
Hari-hari setelah remaja bernama lengkap Fik Muhammad Abdul Kafi itu dinyatakan hilang menjadi mimpi buruk bagi keluarganya. Pencarian dilakukan oleh warga, pemerintah desa, dan relawan. Hutan Desa Cibaregbeg disisir dengan penuh harapan, meski setiap hari yang berlalu tanpa kabar semakin menusuk hati.
Sajidin, Kepala Desa Cibadak, mengungkapkan, “Kami bahkan sempat takut yang terburuk telah terjadi. Tapi keluarga Pikpik terus berdoa, berharap dia akan kembali.”
Langkah-Langkah yang Tak Masuk Akal
Ketika Pikpik akhirnya ditemukan, kisahnya membuat semua orang terhenyak. Dia berjalan kaki dari Sukabumi ke Bogor, menempuh jarak yang tak terbayangkan untuk seorang remaja seusianya. Tidak ada uang, tidak ada bekal, hanya langkah dan keyakinan.
“Ada orang baik yang memberi saya makan di jalan,” kata Pikpik singkat saat ditanya. Namun, selebihnya, ia lebih banyak diam. Seolah perjalanan itu adalah rahasia antara dirinya dan Tuhan.
Kepulangan yang Menggetarkan
Setelah serah-terima di Kantor Desa Cibadak, Pikpik akhirnya pulang ke pelukan keluarganya. Tangis pecah di ruang itu, mencampur syukur, rindu, dan haru yang membuncah. Pikpik, yang tampak lebih kurus tetapi tetap tersenyum, memeluk ibunya dengan erat.
Sajidin, yang turut menyaksikan momen tersebut, berkata, “Kejadian ini mengingatkan kita bahwa doa adalah kekuatan terbesar, dan gotong royong adalah nyawa komunitas kita.”
Pelajaran dari Perjalanan
Kini, Pikpik kembali menjalani hari-harinya, meski jejak langkah dramatis itu akan selamanya menjadi bagian dari dirinya. Kepala Desa Cibadak mengajak masyarakat untuk lebih peduli pada keselamatan anak-anak.
Hilangnya Pikpik bukan sekadar tragedi, melainkan pengingat akan cinta dan keajaiban yang dapat terjadi ketika manusia bersatu untuk satu tujuan. (**)
Editor : Andra Permana
