Sukabuminow.com || Matahari Senin (27/1/25) sore perlahan tenggelam, menyisakan semburat oranye yang membingkai tanah pemakaman. Di salah-satu sudutnya, Umi Nani berdiri dengan tubuh yang tampak renta, seolah beban hidup bertambah berat sejak delapan bulan terakhir. Tangannya menggenggam bunga kering yang hampir hancur dalam cengkeramannya. Di sisinya, Abah Aman hanya terdiam. Pandangannya kosong menatap nisan cucunya, Cepi, yang telah meninggalkan mereka terlalu cepat.
“Cepi, Umi kangen…” bisik Umi Nani, suaranya patah-patah, seolah tak yakin kalimat itu sampai kepada arwah cucunya.
Cepi, pemuda 20 tahun yang menjadi tulang punggung keluarga mereka, meninggal secara tragis ketika sebuah truk besar milik PT. Manggala Kiat menabraknya. Insiden itu terjadi saat ia tengah mempersiapkan acara Hari Nelayan Palabuhanratu pada 2024 lalu. Waktu berlalu, namun luka hati keluarga tak kunjung sembuh. Bukan hanya karena kehilangan Cepi, tetapi juga karena ketidakadilan yang mereka hadapi.
Berita Terkait :
- Kasus Kecelakaan Maut di Palabuhanratu: Mediasi Gagal, Gugatan Berlanjut
- Anggota Meregang Nyawa, KNPI Palabuhanratu Berduka
Kilas Balik
Hati Umi Nani hancur saat menerima kabar duka itu. Cepi, pemuda yang selalu pulang membawa kabar gembira dan penghasilan untuk mereka, kini hanya menyisakan kenangan. “Mun kengeng 200, masihan 100 (kalau dapat 200, ngasih 100),” katanya suatu waktu dengan senyum. Kata-kata sederhana itu kini menusuk lebih dalam.
Perusahaan yang memiliki truk penyebab tragedi itu seakan hilang ditelan bumi. Tidak ada itikad baik untuk memberikan kompensasi. Bahkan janji untuk mengunjungi keluarga dalam seminggu setelah kejadian hanya menjadi omong kosong.
“Teu kadiyeu deui (tidak ke sini lagi)… teu dongkap deui ka bumi (tidak datang lagi ke rumah),” gumam Umi Nani lirih, mengingat kembali pengabaian itu.
Saat Ini
Di atas pusara Cepi, bunga yang dibawa Umi Nani kini terjatuh, menambah hening suasana. Air matanya mengalir tanpa henti, mencerminkan kecewa yang telah menjadi teman setia. “Hoyong mah kitu we, aya perhatian, aya tanggung jawab…(Maunya gitu aja, ada perhatian, ada tanggung jawab)” ujar Umi Nani penuh harap, meski ia tahu kemungkinan itu semakin jauh.
Abah Aman mencoba menenangkan istrinya, namun dirinya sendiri tidak mampu menyembunyikan luka di hatinya. Mereka kehilangan lebih dari sekadar cucu. Mereka kehilangan rasa aman, rasa keadilan, dan harapan akan hidup yang lebih baik.
Suara Perjuangan
Ketua DPC HNSI Kabupaten Sukabumi, Dede Ola, mencoba menjadi perpanjangan suara keluarga Cepi. Menurutnya, keluarga sebenarnya tidak ingin masalah ini dibawa ke jalur hukum. Namun, ketidakpedulian perusahaan memaksa mereka melangkah ke arah itu.
“Perikemanusiaan harus ditegakkan,” tegas Dede Ola. “Kami meminta penegak hukum memberikan keadilan yang layak untuk keluarga ini.”
Akhir yang Menggantung
Saat senja berganti malam, Umi Nani dan Abah Aman perlahan meninggalkan makam. Namun, harapan mereka tetap tertinggal di sana. Menanti jawaban dari keadilan yang terasa terlalu jauh untuk diraih.
Malam itu, di rumah kecil mereka yang kini sunyi, Umi Nani memejamkan mata dengan satu doa: semoga dunia ini masih memiliki ruang untuk kebenaran dan tanggung jawab. (Ade F)
Editor : Andra Permana
