Hujan Deras Picu Pergerakan Tanah di Waluran Sukabumi, Warga Pilih Menyelamatkan Diri
Sukabuminow.com || Hujan deras yang turun tanpa jeda belum lama ini membuat malam di Kampung Pinangjajar, Desa Sukamukti, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, terasa lebih mencekam dari biasanya. Retakan tanah perlahan muncul, memanjang, dan mengancam fondasi rumah warga.
Bencana pergerakan tanah kembali menghantui kawasan ini. Sedikitnya 18 rumah berada dalam kondisi terancam, memaksa puluhan warga meninggalkan tempat tinggal yang telah mereka huni selama bertahun-tahun.
Tak sedikit dari mereka hanya sempat membawa pakaian dan barang penting, meninggalkan rumah demi keselamatan jiwa.
Retakan Tanah Muncul Usai Hujan Deras
Manajer Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, menjelaskan bahwa peristiwa ini mulai terpantau pada Jumat (2/1/26) sekitar pukul 21.45 WIB.
Hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang diduga kuat menjadi pemicu utama kondisi tanah kembali labil.
“Curah hujan yang tinggi membuat struktur tanah di wilayah tersebut tidak stabil dan memunculkan retakan yang berbahaya,” ujar Daeng dalam keterangan resmi, Minggu (4/1/26).
Retakan tanah yang terus melebar menjadi tanda bahaya serius, terutama bagi rumah-rumah yang berdiri di lereng dan area rawan.
Puluhan Warga Mengungsi Sementara
Berdasarkan pendataan di lapangan, sebanyak 18 rumah terancam terdampak pergerakan tanah. Rumah-rumah tersebut dihuni oleh 23 kepala keluarga dengan total 70 jiwa.
Demi menghindari risiko yang lebih besar, warga memilih mengungsi ke lokasi yang dinilai lebih aman.
“Untuk sementara, warga telah mengungsi guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” kata Daeng.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan, mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi memicu pergerakan tanah susulan.
Bencana Susulan Sejak Tahun Lalu
Fenomena pergerakan tanah di Desa Sukamukti bukanlah kejadian baru. Daeng menyebutkan, wilayah tersebut sudah masuk dalam kategori rawan bencana.
“Kejadian pertama tercatat pada Maret 2025. Yang terjadi sekarang merupakan bencana susulan akibat cuaca ekstrem di awal tahun,” jelasnya.
Artinya, ancaman tidak bisa dianggap sepele. Tanah yang pernah bergerak berpotensi kembali mengalami pergeseran, terutama saat hujan deras kembali turun.
BPBD Tingkatkan Pemantauan dan Koordinasi
Menghadapi potensi perluasan area terdampak, BPBD Kabupaten Sukabumi meningkatkan kesiapsiagaan. Pemantauan dilakukan secara intensif bersama Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Waluran dan aparatur desa setempat.
Koordinasi lintas sektor terus dilakukan untuk memastikan keselamatan warga menjadi prioritas utama.
“Kami terus memantau perkembangan di lapangan dan berkoordinasi untuk langkah penanganan lanjutan,” ujar Daeng.
Imbauan Waspada bagi Warga
BPBD mengimbau masyarakat agar tetap waspada, khususnya saat hujan turun dengan intensitas tinggi. Warga diminta segera melapor jika menemukan retakan tanah baru atau perubahan kondisi lingkungan di sekitar permukiman.
Kewaspadaan dan respons cepat menjadi kunci untuk meminimalkan risiko korban akibat pergerakan tanah, terutama di wilayah rawan seperti Desa Sukamukti.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana




