Cuaca Ekstrem Ancam Hasil Panen, Distan Sukabumi Lakukan Langkah Strategis
Sukabuminow.com || Menjelang akhir tahun 2025, fenomena cuaca ekstrem kembali menjadi perhatian serius di Kabupaten Sukabumi. Hujan dengan intensitas tinggi telah menyebabkan banjir dan longsor di Cisolok hingga Cikakak, berdampak langsung pada lahan pertanian warga.
Sebagai daerah dengan kontribusi besar terhadap ketahanan pangan Jawa Barat, kondisi ini menjadi perhatian khusus Pemerintah Kabupaten Sukabumi melalui Dinas Pertanian yang langsung mengambil langkah cepat dan terukur.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan pihaknya telah menyiagakan seluruh petugas lapangan untuk meningkatkan kewaspadaan serta melakukan sosialisasi kepada para petani terkait potensi gangguan iklim terhadap pola tanam.
“Kami sudah menginstruksikan seluruh petugas lapangan agar siaga, melakukan langkah antisipasi, dan menyosialisasikan prakiraan cuaca akhir tahun kepada para petani. Hal ini penting agar mereka dapat menyesuaikan pola tanam dan meminimalkan risiko gagal panen,” ujar Aep, Jumat (31/10/25).
Selain langkah preventif, pihaknya juga tengah melakukan pendataan lahan yang terdampak bencana, serta mengusulkan bantuan pemulihan kepada pemerintah daerah dan pusat. Bentuk bantuan yang diajukan meliputi pengadaan benih baru, perbaikan saluran irigasi desa, hingga rehabilitasi sarana pertanian yang mengalami kerusakan akibat banjir dan longsor.
“Kami sudah menyampaikan usulan bantuan kepada pemerintah kabupaten dan pusat, terutama untuk penyediaan benih dan perbaikan jaringan irigasi desa yang rusak,” jelas Aep.
Tak hanya itu, koordinasi lintas sektor juga terus dilakukan bersama BPBD dan Dinas PU Kabupaten Sukabumi, guna memastikan seluruh lahan pertanian yang terdampak segera mendapatkan perhatian dan penanganan cepat.
Menurut Aep, pertanian merupakan sektor strategis yang menopang ketahanan pangan daerah, sehingga pemulihan pascabencana harus menjadi prioritas bersama. Ia menegaskan, dukungan terhadap petani tidak boleh berhenti hanya pada tahap tanggap darurat, tetapi juga harus berlanjut pada fase pemulihan produktivitas lahan.
“Kami tidak ingin petani kehilangan semangat. Dinas siap mendampingi, memastikan bantuan tepat sasaran, dan mendorong agar proses tanam dapat segera berjalan kembali,” pungkasnya.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana




