Belajar dari Banjir Cisolok, Pemkab Sukabumi Fokus Perkuat Mitigasi dan Kesiapsiagaan

Sukabuminow.com || Pemerintah Kabupaten Sukabumi menegaskan komitmennya untuk memperkuat mitigasi dan kesiapsiagaan bencana, menyusul terjadinya banjir bandang dan longsor di Kecamatan Cisolok pada akhir Oktober 2025. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis Pemkab dalam mengurangi risiko bencana dan mempercepat pemulihan wilayah terdampak.

Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, menyatakan bahwa musibah yang melanda empat desa di Kecamatan Cisolok — yakni Desa Cikahuripan, Sukarame, Wangunsari, dan Karangpapak — menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sistem penataan wilayah dan tata kelola sungai.

“Kejadian ini mengingatkan kita semua bahwa mitigasi harus dilakukan secara terpadu. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri, melainkan perlu dukungan dari masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah provinsi,” ujar Andreas di sela kunjungan lapangan, Jumat (31/10/25).

Penguatan Infrastruktur dan Rehabilitasi Lingkungan

Salah satu langkah strategis yang sedang ditempuh Pemkab Sukabumi adalah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperbaiki Tembok Penahan Tebing (TPT) yang jebol di sepanjang aliran sungai Cisolok. Selain itu, pemerintah juga menyiapkan program rehabilitasi lingkungan guna mencegah potensi longsor dan banjir susulan.

“TPT dan drainase alami perlu diperkuat. Di sisi lain, pola pembangunan harus memperhatikan daya dukung lingkungan agar tidak memperburuk risiko bencana,” jelasnya.

Andreas menambahkan, Pemkab juga akan memperluas jaringan early warning system (sistem peringatan dini) di sejumlah titik rawan, termasuk di kawasan pesisir dan perbukitan yang memiliki risiko tinggi terhadap banjir dan longsor.

Kesiapsiagaan Warga Jadi Prioritas

Selain infrastruktur fisik, Pemkab Sukabumi melalui BPBD juga memperkuat edukasi kesiapsiagaan masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui pelatihan simulasi bencana, pembentukan relawan tangguh, dan integrasi kurikulum kebencanaan di sekolah-sekolah yang berada di wilayah rawan bencana.

“Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama mitigasi. Ketika warga memahami langkah cepat yang harus dilakukan, maka dampak bencana bisa ditekan seminimal mungkin,” tutur Andreas.

Di tempat sama, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi, Eki Radiana Rizki, menambahkan bahwa pihaknya terus melakukan pemetaan daerah berisiko tinggi, termasuk menyiapkan rencana kontinjensi untuk menghadapi potensi cuaca ekstrem akhir tahun.

Evaluasi dan Kolaborasi Multi-Pihak

Pemkab Sukabumi juga berkomitmen melibatkan berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari unsur Forkopimda, akademisi, hingga komunitas relawan, untuk memperkuat kolaborasi dalam perencanaan penanganan bencana.

“Kami sedang mematangkan mekanisme kerja sama lintas instansi agar setiap penanganan bencana bisa lebih cepat, terukur, dan tepat sasaran,” imbuh Eki.

Sementara itu, Wabup Andreas menyampaikan apresiasi terhadap seluruh pihak yang telah menunjukkan solidaritas dan gotong royong dalam membantu warga terdampak. Menurutnya, semangat kebersamaan tersebut akan menjadi fondasi kuat bagi Sukabumi dalam membangun daerah tangguh bencana.

Data Terbaru Dampak Bencana

Berdasarkan data BPBD Kabupaten Sukabumi per 30 Oktober 2025, banjir dan longsor di Kecamatan Cisolok menyebabkan 50 rumah rusak berat, 52 rusak sedang, 39 rusak ringan, serta empat rumah berstatus terancam. Sebanyak 577 rumah sempat terendam, namun kini kondisi air telah surut dan warga mulai kembali beraktivitas.

Dengan langkah-langkah strategis tersebut, Pemkab Sukabumi berharap dapat meminimalkan risiko bencana di masa depan, memperkuat ketahanan wilayah, dan menjadikan Cisolok serta daerah lain di Sukabumi sebagai kawasan yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan.

Reporter: Ridwan HMS
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru