Sukabuminow.com || Dedeh Kurnaesih (46 th), ibu rumah tangga korban penyiraman air keras oleh mantan suaminya, Gagan (59 th), mengembuskan napas terakhirnya saat menjalani perawatan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.
“Meninggal dunia, informasinya kami terima sekitar pukul 20.45 WIB tadi malam. Saat itu kami sudah berkumpul di rumah korban. Bahkan saya sudah mau tidur, tapi tiba-tiba ada seseorang datang naik motor memberikan kabar duka bahwa Bu Dedeh telah tiada,” ungkap Abah Apendi, tetangga korban di rumah duka, Selasa (14/1/25).
Berita Terkait :
- Tragedi Air Keras di Sukabumi : Kisah Heroik Anak Melindungi Ibu dari Kekejaman Ayah Tiri
- Cemburu Berujung Petaka, Air Keras Jadi Senjata : Polisi Tangkap Pelaku KDRT
Jenazah Dedeh tiba di rumah duka di Kampung Dukuh Nara, Desa Pawenang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten Sukabumi, pada pukul 09.30 WIB. Usai disemayamkan sejenak, almarhumah dimakamkan di TPU Kampung Panyindangan yang tak jauh dari rumahnya.
“Adik saya meninggal dunia, kami tidak bisa lagi bertemu dengannya. Saya hanya berharap pelaku dihukum setimpal. Kehilangan ini sangat berat untuk kami sekeluarga,” timpal Cecep (60 th), kakak almarhumah dengan suara bergetar.
Kabar duka ini juga dikonfirmasi oleh Kasat Reskrim Polres Sukabumi, AKP Ali Jupri. “Informasinya benar, korban meninggal dunia,” ujar Ali singkat.
Ali juga menyebut bahwa kasus ini telah memasuki tahap satu. “Kami akan segera berkoordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) karena berkas perkara sudah kami serahkan,” tambahnya.
Sementara itu Kapolsek Nagrak, Iptu Asep Suhriat, mengungkapkan bahwa jasad almarhumah telah dipulasarakan di rumah duka. “Jenazah telah dibawa ke rumah duka dan dipulasarakan sebelum dimakamkan,” kata Asep saat ditemui di lokasi.
Dalam kasus ini, Dedeh adalah korban utama yang meninggal dunia akibat penyiraman air keras oleh mantan suaminya. Sedangkan dua anaknya, M. Sarif (18 th) dan Angga Juliani Suakir (12 th), masih menjalani perawatan intensif di RS Hasan Sadikin Bandung. “Saat ini, satu orang masih dirawat di rumah sakit,” jelas Asep.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa kekerasan dalam rumah tangga dapat meninggalkan luka yang sangat dalam, baik bagi korban maupun keluarga yang ditinggalkan. (Edo)
Editor : Andra Permana
