AdvertorialKabupaten SukabumiPemerintahan

Tungku Rakyat, Inovasi Mahasiswa untuk Atasi Krisis Sampah di Pedesaan Sukabumi

Sukabuminow.com || Persoalan sampah di Kabupaten Sukabumi terus menjadi tantangan, terutama di wilayah perdesaan yang belum terlayani Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Menjawab kebutuhan itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusa Putra menggagas Tungku Rakyat, sebuah inovasi pembakaran sampah plastik berbasis komunitas di Desa Mekarnangka, Kecamatan Cikidang.

Tungku Rakyat dirancang untuk membakar sampah plastik pada suhu tinggi, sekitar 800 derajat Celsius. Metode ini diklaim mampu mengurangi volume sampah hingga 90 persen dan meminimalkan dampak pencemaran udara dibandingkan praktik pembakaran sampah konvensional yang masih marak di halaman rumah warga.

Ketua Tim KKN, Nauval Raihan, menjelaskan bahwa keterbatasan fasilitas pengelolaan sampah di desa menjadi latar belakang lahirnya inovasi ini.

“Banyak warga membakar sampah sembarangan tanpa memperhatikan risiko kesehatan. Tungku ini kami rancang agar lebih aman, efisien, dan ramah lingkungan,” ujarnya di sela peresmian Tungku Rakyat oleh Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, Jumat (1/8/25).

Struktur tungku dibuat sederhana dan bisa direplikasi di banyak lokasi. Memiliki dua pintu, satu untuk memasukkan sampah dan satu lagi untuk mengeluarkan sisa abu pembakaran, alat ini diharapkan bisa menjadi solusi alternatif skala rumah tangga atau komunitas.

Wakil Bupati Sukabumi, Andreas, yang hadir meninjau langsung inovasi ini, menegaskan bahwa penanganan sampah harus dimulai dari hulu, yakni dari sumber penghasilnya. Ia menyebutkan, Provinsi Jawa Barat setiap bulan menghasilkan sekitar 29,5 juta ton sampah, namun baru sekitar 10 persen yang terkelola secara layak.

“Jika kesadaran masyarakat tidak dibangun dari sekarang, kita akan kewalahan menghadapi persoalan ini. Sampah bukan hanya masalah hari ini, tapi juga masa depan generasi kita,” kata Andreas.

Lebih lanjut, ia menyatakan Pemkab Sukabumi tengah menyusun kebijakan pengelolaan sampah yang lebih terpadu. Salah satu rencana yang sedang dikaji adalah penerapan sanksi terhadap pelaku usaha wisata, seperti hotel dan restoran, yang tidak patuh dalam tata kelola sampahnya.

Andreas juga menyebut bahwa inisiatif seperti Tungku Rakyat penting untuk ditiru oleh desa-desa lain.

“Inovasi berbasis masyarakat ini harus mendapat dukungan. Apalagi dilakukan dengan semangat gotong royong. Ini adalah contoh kecil dengan dampak besar,” tegasnya.

Inovasi Tungku Rakyat ini hadir sehari setelah Pemkab Sukabumi meresmikan fasilitas pengolahan sampah RDF (Refused Derived Fuel) di Cimenteng. Keduanya menjadi penanda bahwa strategi penanganan sampah perlu dilakukan secara kolaboratif dan terintegrasi, dari desa hingga kabupaten.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

Berita Terkait

Back to top button

You cannot copy content of this page