Sukabuminow.com || Pengembangan desa wisata dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk memperkuat ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Di tengah tuntutan kemandirian desa dan optimalisasi potensi lokal, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, memiliki peluang besar untuk menjadikan sektor pariwisata berbasis desa sebagai penggerak ekonomi baru.
Hal tersebut disampaikan Ketua Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi PKS, Iwan Ridwan, saat rapat kerja yang membahas pengembangan potensi desa guna meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) dan kesejahteraan masyarakat, Kamis (11/6/26). Raker tersebut dihadiri unsur Pemerintah Kabupaten Sukabumi yang terdiri dari DPMD, Dinas Pariwisata, Bapperida, Bapenda, BPKAD. Hadir pula Pengurus Forum Desa Wisata, dan APDESI.
Menurut Iwan, hasil pendataan terbaru menunjukkan Kabupaten Sukabumi memiliki sedikitnya 62 desa yang menyimpan potensi wisata alam maupun budaya. Namun, dari jumlah tersebut, baru sekitar 30 desa dan satu kelurahan yang dinilai memiliki tingkat kesiapan untuk dikembangkan secara lebih serius.
“Kabupaten Sukabumi memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Dari hasil pendataan, terdapat sekitar 62 desa yang memiliki potensi wisata, tetapi yang siap dikembangkan saat ini baru sekitar 30 desa dan satu kelurahan,” ujar Iwan Ridwan, Jumat (12/6/26).
Ia menilai kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi pemerintah daerah untuk mempercepat pembinaan dan penguatan kapasitas desa agar mampu mengelola potensi wisata secara profesional dan berkelanjutan.
Iwan menegaskan, pengembangan desa wisata saat ini tidak bisa hanya mengandalkan panorama alam semata. Desa harus mampu membangun ekosistem wisata yang lengkap sehingga memberikan pengalaman menyeluruh bagi wisatawan.
Menurutnya, wisatawan modern tidak hanya mencari destinasi dengan pemandangan menarik, tetapi juga pengalaman budaya, kuliner khas, hingga produk ekonomi kreatif yang mencerminkan identitas daerah.
“Potensi desa merupakan karunia yang harus dikelola dengan baik agar menjadi magnet bagi wisatawan. Desa perlu mendesain potensi yang dimiliki menjadi sebuah ekosistem wisata. Wisatawan tidak hanya menikmati alamnya, tetapi juga budaya lokal, kuliner khas, penginapan, transportasi, hingga hasil karya UMKM masyarakat sebagai suvenir yang berkesan,” katanya.
Konsep tersebut dinilai mampu menciptakan efek ekonomi berantai yang lebih luas. Kehadiran wisatawan tidak hanya menguntungkan pengelola objek wisata, tetapi juga memberikan peluang usaha bagi pelaku UMKM, pengrajin, penyedia jasa transportasi, hingga masyarakat yang menyediakan layanan penginapan.
Di tengah upaya pemerintah memperkuat kemandirian desa, pengembangan desa wisata menjadi salah satu sektor yang berpotensi meningkatkan Pendapatan Asli Desa secara berkelanjutan.
Iwan menilai keberhasilan desa dalam mengelola potensi wisata akan berdampak langsung terhadap peningkatan ekonomi masyarakat dan kemampuan desa dalam membiayai program pembangunan secara mandiri.
Karena itu, ia mendorong perangkat daerah terkait untuk lebih optimal dalam melakukan pendampingan, pelatihan, serta pembinaan terhadap desa-desa yang memiliki potensi wisata.
“Saya dari Komisi I DPRD Kabupaten Sukabumi sangat mendukung dinas terkait agar lebih maksimal dalam melakukan pembinaan. Dengan pengelolaan yang semakin profesional, saya optimistis desa-desa tersebut dapat meningkatkan PADes dan pada akhirnya memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.
Dengan bentang alam yang luas, kekayaan budaya yang masih terjaga, serta keberadaan pelaku UMKM yang tersebar di berbagai wilayah, Kabupaten Sukabumi dinilai memiliki modal besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan pariwisata berbasis desa di Indonesia.
Namun, keberhasilan tersebut memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, pelaku usaha, komunitas wisata, dan masyarakat agar potensi yang selama ini tersebar dapat dikelola menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Bagi Iwan Ridwan, pengembangan desa wisata bukan sekadar menghadirkan destinasi baru, melainkan membangun masa depan ekonomi desa yang lebih mandiri, berdaya saing, dan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
