Revitalisasi Tugu Jangilus: Ikon Kota Kembali Bersinar Jelang Libur Nataru
Sukabuminow.com || Berdiri tegak di kawasan Kampung Batu Sapi, Kelurahan/Kecamatan Palabuhanratu, Tugu Jangilus —monumen berbentuk ikan marlin yang akrab pula disebut Tugu Ikan Marlin— kini kembali mencuri perhatian. Setelah sempat terlihat kusam akibat kerusakan di sejumlah bagian, ikon yang merepresentasikan Ibu Kota Kabupaten Sukabumi ini bangkit dengan wajah baru melalui sentuhan seni dan budaya.
Beberapa tahun terakhir, kondisi Tugu Jangilus sempat memprihatinkan. Cat yang mengelupas, kolam yang tak lagi memantulkan keindahan, hingga area taman yang rusak membuatnya kehilangan daya pikat. “Kumuh” menjadi label yang melekat, membuat warga dan wisatawan merindukan sosok tugu yang seharusnya menjadi etalase kebanggaan Palabuhanratu sebagai gerbang pesisir Sukabumi.
Perubahan itu mulai terasa sejak revitalisasi dilakukan di bawah arahan Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi. Ia menilai, memperbaiki Tugu Jangilus bukan semata soal estetika, melainkan juga soal kesan pertama.
“Tugu Jangilus adalah muka ibu kotanya Kabupaten Sukabumi. Saat kami melihat kondisi sebelumnya yang kumuh dan rusak, kami merasa ini harus dibenahi, apalagi menjelang libur Natal dan Tahun Baru. Banyak tamu dari luar daerah akan datang, dan tugu ini harus memberi kesan bahwa Palabuhanratu adalah kota yang terawat dan berbudaya,” ujar Sendi, Senin (1/12/25).
Revitalisasi dilakukan secara bertahap, dimulai dari perbaikan kolam, pengecatan ulang, hingga penataan taman. Namun, yang membuatnya istimewa adalah pemasangan ornamen berbasis kearifan lokal: rangkaian dekorasi bunga khas, penataan bambu sebagai simbol budaya Nusantara, hingga ornamen alami yang merepresentasikan karakter wilayah pesisir dan pedalaman Sukabumi yang menyatu.
Sendi menegaskan, ada pesan budaya di balik pemilihan dekorasi tersebut, selain manfaat psikologis yang ditimbulkannya.
“Kami menonjolkan unsur kearifan lokal, yakni bunga dan bambu sebagai identitas lingkungan dan budaya masyarakat. Ada pula aspek kebudayaan yang kami internalisasi dalam penataan kota, memberi kesan bahwa kebudayaan bukan pajangan, melainkan ruh yang hidup dalam ruang publik,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar monumen, Tugu Jangilus kini menjelma menjadi ruang simbolik yang mengisahkan relasi warga Palabuhanratu dengan laut, di mana ikan marlin bukan hanya sekadar bentuk tugu, tetapi penanda sejarah bahwa wilayah ini tumbuh dari maritim, perdagangan, dan keramahtamahan masyarakat pesisir. Keindahannya di malam hari yang kini lebih terjaga juga memberikan pengalaman visual baru bagi wisatawan yang singgah, baik sekadar berfoto maupun menjadikannya titik awal menyusuri Palabuhanratu.
Pemkab Sukabumi berharap, perubahan ini menjadi langkah awal konsistensi penataan ruang publik yang berkelanjutan. Tugu Jangilus, sebagai penanda kota, kini kembali menjalankan tugasnya: menyapa siapa pun yang datang bahwa Palabuhanratu siap dirayakan, dikunjungi, dan dikenang.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana




