Sorgum, Harapan Baru Diversifikasi Pangan di Kabupaten Sukabumi
Sukabuminow.com || Sinar pagi di Kampung Cipatuguran, Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi, 27 November 2025 lalu memantulkan harapan baru. Di lahan yang semula tandus dan gersang serta tidur, sorgum kini mulai ditanam sebagai simbol diversifikasi pangan di Kabupaten Sukabumi. Tanaman yang sempat terlupakan itu perlahan kembali menjadi bahan perbincangan, bukan sekadar soal budidaya, melainkan juga masa depannya dalam rantai ekonomi petani.
Bagi Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, sorgum bukan eksperimen sesaat. Sorgum dipandang sebagai opsi strategis dalam memperkuat ketahanan pangan, terlebih di tengah ancaman perubahan iklim dan kebutuhan diversifikasi sumber karbohidrat. Namun, lembaga itu punya garis tebal yang tak bisa dilangkahi: menanam tanpa menyiapkan pasar sama saja menggiring petani ke ketidakpastian.
“Sorgum bukan tanaman baru. Ia satu keluarga dengan padi, jagung, dan gandum. Bahkan secara nasional, sorgum digadang-gadang sebagai pangan masa depan,” ujar Kepala Bidang Sarana Pertanian Distan Kabupaten Sukabumi, Deni Ruslan, Selasa. (2/12/25).
Pernyataan tersebut membawa kita pada sejarahnya. Sorgum dahulu pernah berjaya di Nusantara sebelum dominasi beras dan terigu mengakar kuat di pola konsumsi masyarakat. Kini, sorgum kembali diarusutamakan karena kaya serat, adaptif terhadap lahan kering, serta potensial menjadi substitusi bahan baku industri pangan.
Membangun Siklus Usaha Tertutup
Meski budidaya menjadi langkah awal, Distan tetap mengingatkan bahwa persoalan terbesar sorgum di Sukabumi bukan pada kemampuan lahan untuk menumbuhkannya, melainkan pada sistem hilirnya, yakni tataniaga yang memastikan produk terserap pasar.
“Kalau langsung dilepas ke pasar tanpa kepastian, petani bisa kesulitan menjual hasil panennya. Kita butuh pola yang menjamin kesinambungan antara produksi dan pasar,” tegas Deni.
Ia mengusulkan pola siklus usaha tertutup, di mana petani menanam sorgum dengan kontrak pembeli atau jaminan serapan hasil panen sedari awal. Model semacam ini, menurutnya, akan menjaga motivasi produksi sekaligus menghindarkan petani dari risiko fluktuasi harga dan ketiadaan permintaan.
Distan sendiri bukan baru memulai. Sejumlah uji coba penanaman telah berlangsung di kecamatan Simpenan, Nagrak, Cibadak, Cikidang, dan Cikidang. Hanya saja, tantangan serapan hasil dan distribusi belum sepenuhnya teratasi sehingga program belum bisa dilepas sebagai komoditas massal.
Pendampingan untuk Keberlanjutan
Alih-alih mundur, Distan memilih strategi lain: tetap menanam, tetapi sekaligus menata pasar dan menguatkan kelembagaan petani secara bertahap. Pendampingan intensif menjadi kata kunci agar pengembangan sorgum tidak berhenti di tengah jalan, seperti sejumlah program komoditas baru di masa lalu yang gagal bertahan karena tidak terserap rantai niaga.
“Distan siap mendampingi petani agar pengembangan sorgum berjalan lebih terarah dan tidak berhenti di tengah jalan,” pungkasnya.
Harapan Baru yang Butuh Fondasi
Sorgum Sukabumi masih berada di musim semainya: tumbuh, diuji, dan dipupuk ekosistemnya. Kampung Cipatuguran menjadi gambar kecil dari mimpi besar, bahwa masa depan pangan Sukabumi bisa lebih beragam, lebih adaptif, dan lebih sejahtera bagi petaninya. Namun, masa depan itu jelas butuh fondasi utama: pasar yang siap menyambut sebelum benih ditanam.
Dengan arah kebijakan yang lebih matang dan model bisnis yang berkelanjutan, Sorgum bukan hanya harapan alternatif pangan, melainkan alternatif pendapatan bagi petani Kabupaten Sukabumi di kemudian hari.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana




