Kelumpuhan Pengajar di Cisolok Bukan Akibat Vaksinasi Covid-19?, Ini Penjelasan Komda KIPI Jabar
Reporter : Edo
Sukabuminow.com || Susan Antela, guru SMAN 1 Cisolok yang menderita kelumpuhan dan penglihatan buram setelah divaksinasi Covid-19 dosis kedua didiagnosa mengidap Guillain Barre Syndrome (GBS). Hal itu diungkapkan Ketua Komisi Daerah Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komda KIPI) Jawa Barat, Kusnandi Rusmil.
Ia mengatakan, diagnosa tersebut didapat setelah pihaknya melakukan analisa mendalam terhadap kondisi warga Kampung Pasir Talaga RT 03/06, Desa Cicadas, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi itu.
“Keluhan Bu Susan muncul 12 jam setelah disuntik vaksin dosis kedua. Kita sudah lakukan CT Scan toraks dan pemeriksaan darah sesuai prosedur. Hasil pemeriksaan dokter spesialis saraf, beliau didiagnosa GBS. Dan GBS ini tidak ada hubungannya dengan vaksinasi,” ujarnya saat konferensi pers via zoom meeting, Senin (3/5/21).
Saat ini, kata Kusnandi, keadaan umum Susan telah membaik. Kontrol akan kembali dilakukan ke RS Hasan Sadikin Bandung pekan depan.
“Saat ini belum ditemukan bukti yang kuat terkait keluhan klinis yang terjadi pada Bu Susan terkait dengan vaksin Covid-19. Dari hasil survailan KIPI dan KIPK melalui laman web keamanan vaksin maupun email. Sampai tanggal 29 April 2021 sudah dilakukan vaksinasi terhadap hampir 20 juta dosis, dan tidak diketemukan keluhan gejala klinis serupa yang dilaporkan. Termasuk pada uji klinis vaksin proses satu, dua, dan tiga,” terangnya.
“Kesimpulannya, belum cukup bukti adanya hubungan antara kelemahan anggota gerak dan keburaman mata yang dialami Bu Susan dengan vaksinasi Covid-19,” jelasnya.
Penyakit GBS yang dialami oleh Susan setelah vaksinasi itu disebut terjadi kebetulan. Sebab dua pekan sebelumnya sudah ada masalah infeksi.
“Hasil dari pada audit KIPI terjadi GBS. Ini biasanya akan terjadi gak langsung, biasanya itu dua minggu sebelumnya sudah ada masalah. Ada infeksi dulu sehingga pada waktu itu terjadi kebetulan,” bebernya.
“Jadi sebetulnya dua minggu sebelumnya dia sudah ada tanda-tanda karena infeksi yang tidak bergejala. Saat skrining sebelum vaksinasi tidak terdeteksi. Itu kan reaksi edimologi, jadi tidak terdeteksi,” tandasnya.
Editor : Andra Permana || E-mail Redaksi : sukabuminow8@gmail.com




