Sukabuminow.com || Putusnya jembatan penghubung antara Kampung Tanggeng dan Cipiit, Desa Bojongsari, Kecamatan Nyalindung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menjadi alarm serius bagi ketahanan infrastruktur di wilayah rawan bencana. Jembatan yang hanyut diterjang banjir pada Selasa (14/4/26) itu kini melumpuhkan total aktivitas warga.
Tidak hanya mobilitas harian yang terhenti, dampak langsung juga dirasakan sektor pendidikan. Anak-anak sekolah terpaksa tidak beraktivitas karena akses penyeberangan terputus, sementara debit Sungai Citalahab masih tinggi akibat hujan intens.
Kondisi ini memperlihatkan kerentanan infrastruktur berbasis swadaya terhadap tekanan cuaca ekstrem yang semakin tidak terprediksi.
Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menegaskan pemerintah daerah telah bergerak cepat dengan menurunkan tim ke lokasi untuk melakukan asesmen teknis.
“Tim sudah kami kirim untuk melakukan asesmen lapangan. Hasilnya akan menjadi dasar dalam penyusunan usulan pembangunan, termasuk langkah penanganan darurat agar akses warga bisa segera pulih,” ujar Sendi, Kamis (16/4/26).
Jembatan yang putus diketahui merupakan konstruksi bambu hasil kolaborasi masyarakat bersama lembaga sosial. Infrastruktur tersebut bahkan belum genap tiga bulan digunakan sejak dioperasikan awal Januari 2026.
Fakta ini memunculkan pertanyaan lebih luas terkait standar ketahanan bangunan di daerah rawan bencana, terutama pada proyek berbasis gotong royong yang belum sepenuhnya didukung perencanaan teknis jangka panjang.
Dalam jangka pendek, pembangunan akses darurat menjadi prioritas untuk memulihkan konektivitas warga. Namun, dalam perspektif yang lebih strategis, peristiwa ini menegaskan urgensi pembangunan infrastruktur permanen yang adaptif terhadap risiko hidrometeorologi.
Fenomena cuaca ekstrem yang kian meningkat menuntut pendekatan baru dalam pembangunan wilayah, khususnya di kawasan dengan karakter geografis seperti Sukabumi.
Jika tidak diantisipasi secara sistematis, kejadian serupa berpotensi terus berulang dan menghambat aktivitas ekonomi, pendidikan, dan memperbesar kerentanan sosial masyarakat.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
