Cerita Mak Utiah, Warga Ciptamulya Sukabumi yang Sedang Melayat Saat Kejadian Terjadi

Sukabuminow.com || Sabtu (26/7/26) siang kemarin, Mak Utiah, 65 tahun, tidak berada di rumah. Perempuan yang selama ini tinggal bersama suami dan kedua anaknya tersebut sedang berada di tempat lain, menjalani sebuah momen duka bersama warga lainnya. Mak Utiah sedang melayat.

Ia datang ke rumah salah satu keluarga sesepuh di Kasepuhan Sinarresmi, Desa Sirnaresmi. Bersama warga lainnya, ia hadir untuk menyampaikan belasungkawa dan memberikan penghormatan kepada keluarga yang sedang berduka.

Tidak ada yang menyangka, di tengah suasana duka yang sedang mereka jalani, sebuah kejadian terjadi dan kemudian meninggalkan kesedihan yang jauh lebih dalam.

Mak Utiah masih mengingat di mana dirinya berada ketika kejadian itu berlangsung. Ia sedang melayat.

Bukan hanya Mak Utiah. Saat itu, banyak warga Ciptamulya juga tengah berada di Kasepuhan Sinarresmi. Mereka datang dengan tujuan yang sama, menyambangi keluarga sesepuh yang sedang berduka.

Di tengah kesedihan sebuah keluarga yang kehilangan, Mak Utiah dan warga lainnya pun harus menghadapi kenyataan dari sebuah kejadian yang kemudian menjadi kenangan pilu.

Bagi seorang perempuan berusia 65 tahun, pengalaman itu tentu bukan sesuatu yang mudah dilupakan.

Mak Utiah menjalani kehidupannya bersama suami dan kedua anaknya. Rumah menjadi tempat ia kembali, tempat keluarga berkumpul, dan tempat berbagai cerita kehidupan dijalani bersama.

Namun, pada hari itu, ia sedang tidak berada di rumah. Takdir membawanya ke tempat lain. Ia sedang melayat ketika kejadian itu berlangsung.

Kisah Mak Utiah menghadirkan sisi lain dari sebuah peristiwa. Di balik kabar besar yang kemudian diketahui banyak orang, ada warga biasa yang pada saat bersamaan sedang menjalani kehidupan mereka.

Ada yang sedang bekerja. Ada yang sedang berada di rumah. Dan ada pula yang sedang melayat, seperti Mak Utiah.

Kesedihan yang dirasakan pun menjadi berlapis. Di satu sisi, mereka datang untuk menguatkan keluarga yang sedang kehilangan. Di sisi lain, mereka sendiri kemudian harus menyaksikan atau menghadapi sebuah kejadian yang meninggalkan luka dan kenangan mendalam.

Mak Utiah menjadi salah satu saksi dari suasana tersebut. Baginya, hari itu bukan sekadar hari ketika sebuah kejadian berlangsung. Hari itu juga menjadi bagian dari perjalanan hidup yang kemungkinan akan terus dikenang.

Sebab, setiap kali mengingat peristiwa tersebut, yang terbayang bukan hanya apa yang terjadi, tetapi juga di mana dirinya berada dan bersama siapa ia saat itu.

Ia sedang melayat. Kalimat sederhana itu menyimpan kisah yang begitu dalam. Mak Utiah datang untuk menemani orang lain yang sedang berduka. Namun, tanpa pernah ia bayangkan sebelumnya, hari tersebut justru meninggalkan kesedihan tersendiri yang harus ia bawa pulang dalam ingatan.

Di tengah suasana yang pilu, warga Ciptamulya menunjukkan bahwa mereka tidak berjalan sendiri. Mereka hadir bersama, saling menguatkan, dan berbagi kesedihan. Begitulah kehidupan masyarakat di tengah sebuah peristiwa.

Ada duka yang terlihat oleh banyak orang, tetapi ada pula kesedihan yang hanya tersimpan dalam ingatan mereka yang mengalaminya. Bagi Mak Utiah, kenangan itu mungkin akan selalu memiliki tempat tersendiri.

Sebab, pada hari ketika sebuah kejadian meninggalkan luka, ia sedang berada di tempat yang tidak pernah ia duga akan menjadi bagian penting dari kisah hidupnya. Ia sedang melayat. Bersama warga Ciptamulya lainnya.

Dan dari sanalah, sebuah kenangan pilu tentang hari itu akan terus tersimpan.Jika ingin lebih dramatis dan emosional ala feature media nasional, naskah ini bisa diarahkan lebih dalam lagi dengan lead sinematik, detail suasana lokasi, adegan Mak Utiah, serta ending yang lebih menggugah dan membuat pembaca terdiam.

Reporter: Iwan
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru