Opini Pemuda: Dualisme KNPI dan Tantangan Persatuan di Sukabumi
Sukabuminow.com || Dinamika Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Sukabumi di penghujung tahun 2025 menjadi perhatian serius berbagai elemen kepemudaan. Munculnya dua kepengurusan DPD KNPI Kabupaten Sukabumi periode 2025–2028 memunculkan pertanyaan mendasar tentang arah pembinaan pemuda dan peran organisasi kepemudaan sebagai wadah pemersatu.
Salah satu pemuda Kabupaten Sukabumi sekaligus Ketua Forum Pemuda Palabuhanratu (FPP), Friady Mahyuzar Lubis, memandang situasi ini sebagai persoalan yang perlu disikapi secara jernih dan dewasa. Menurutnya, dualisme KNPI bukan sekadar konflik organisasi, tetapi berpotensi berdampak luas terhadap ekosistem kepemudaan di daerah.
“KNPI sejak awal didirikan sebagai rumah besar pemuda. Ketika terjadi dualisme, yang paling dirugikan bukan hanya organisasinya, tetapi seluruh pemuda dan organisasi kepemudaan (OKP) yang selama ini menjadikan KNPI sebagai wadah konsolidasi,” ujar Onay, sapaan karib Friady Mahyuzar Lubis, Selasa (30/12/25).
Ia menilai, fenomena dualisme ini juga berbeda dengan dinamika yang pernah terjadi sebelumnya. Menurut Onay, sepanjang sejarah KNPI di Kabupaten Sukabumi, konflik terbuka hingga melahirkan dua kepengurusan seperti saat ini belum pernah terjadi.
“Sebelumnya tidak ada konflik dualisme KNPI seperti ini. Saya rasa, ada pihak-pihak tertentu di balik semua ini yang berpotensi memecah belah para pemuda,” ungkap Onay menyampaikan analisanya.
Meski demikian, Onay menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak dimaksudkan untuk menuding siapa pun, melainkan sebagai refleksi agar seluruh pihak lebih waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan di luar semangat persatuan pemuda. Ia menekankan pentingnya mengembalikan dinamika KNPI ke jalur organisasi yang sehat, transparan, dan bermartabat.
Secara historis dan legal, Onay menilai publik membutuhkan kejelasan agar tidak terjebak dalam kebingungan berkepanjangan. Ia menekankan pentingnya konsistensi terhadap mekanisme organisasi yang sah agar tidak menimbulkan kesan pengkotak-kotakan pemuda. Dalam pandangannya, ruang dialog dan penyelesaian secara organisatoris menjadi kunci utama untuk menjaga marwah KNPI sebagai pemersatu.
Sorotan juga diarahkan pada kehadiran unsur pimpinan salah satu perangkat daerah (PD) dalam Musyawarah Daerah KNPI versi tertentu beberapa waktu lalu. Onay menilai, situasi tersebut seharusnya disikapi secara hati-hati agar tidak memunculkan persepsi keberpihakan, sekaligus tidak membuka ruang konflik baru di kalangan pemuda.
“Pemuda berharap pemerintah daerah berdiri pada posisi yang menyejukkan. Bukan berpihak pada siapa pun, tetapi hadir sebagai fasilitator yang memastikan pembinaan kepemudaan tetap berjalan dan tidak terhambat oleh dinamika internal,” ungkapnya.
Isu lain yang tak kalah penting, lanjut Onay, adalah terkait dana hibah kepemudaan yang selama ini disalurkan melalui KNPI. Dualisme kepengurusan berpotensi menimbulkan kebingungan administratif, bahkan risiko hukum, apabila tidak segera dituntaskan secara jelas.
“Ketika ada dua kepengurusan, publik tentu bertanya, dana hibah akan disalurkan kepada siapa? Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka yang terjadi adalah stagnasi pembinaan pemuda dan OKP. Padahal, pembinaan itu adalah kebutuhan, bukan sekadar program seremonial,” katanya.
Lebih jauh, Onay menilai dualisme KNPI berisiko menciptakan fragmentasi kepemudaan, melemahkan daya advokasi, serta menyeret organisasi ke tarik-menarik kepentingan yang menjauh dari tujuan utamanya. Kondisi ini dapat mengaburkan peran strategis KNPI sebagai mitra kritis pemerintah dalam pembangunan daerah.
“Kita tidak boleh membiarkan KNPI berubah dari wadah pemersatu menjadi arena konflik internal. Pemuda Sukabumi membutuhkan ruang kolaborasi, bukan kompetisi yang melelahkan,” tegas Onay.
Ia mengapresiasi pernyataan Bupati Sukabumi Asep Japar yang menegaskan sikap netral pemerintah daerah serta komitmen menjaga kondusivitas. Menurut Onay, langkah mendorong dialog terbuka dan penyelesaian melalui mekanisme organisasi yang sah merupakan jalan paling bijak untuk merajut kembali persatuan pemuda.
Menutup pandangannya, Onay mengajak seluruh elemen kepemudaan untuk menahan diri, mengedepankan etika organisasi, dan menempatkan kepentingan daerah di atas kepentingan kelompok. Ia optimistis, dengan komunikasi yang terbuka dan itikad baik semua pihak, KNPI Kabupaten Sukabumi dapat kembali menjadi kekuatan pemersatu dan penggerak pembangunan.
“Pemuda Sukabumi terlalu berharga untuk dibiarkan terpecah. Persatuan adalah modal utama kita untuk ikut mewujudkan Sukabumi yang maju, harmonis, dan bermartabat,” pungkasnya.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana




