Sukabumi Siapkan Ekonomi Kreatif Go Digital, Target Tembus Pasar Global 2030

Sukabuminow.com || Di tengah percepatan transformasi digital nasional, daerah dituntut tidak sekadar mengikuti arus, tetapi menjadi motor penggerak. Kabupaten Sukabumi mengambil posisi strategis itu melalui penguatan ekosistem ekonomi kreatif berbasis kolaborasi dan digitalisasi.

Langkah ini ditandai dengan konsolidasi antara Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi dan Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Sukabumi di Gedung Negara Pendopo Sukabumi, Selasa (24/2/26). Fokusnya jelas: membangun fondasi ekonomi kreatif 2026–2030 yang mampu menembus batas lokal menuju daya saing nasional bahkan global.

Isu Strategis: Tantangan Digital dan Kesenjangan Daya Saing

Ekonomi kreatif Indonesia berkembang pesat, namun kesenjangan kapasitas digital antar daerah masih menjadi persoalan utama. Sukabumi melihat celah ini sebagai peluang.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menegaskan bahwa penguatan ekonomi kreatif harus bertumpu pada kapital sosial sekaligus peningkatan literasi dan kapasitas digital pelaku usaha.

“Kita harus memastikan ide-ide kreatif tidak berhenti pada gagasan, tetapi terkonversi menjadi nilai ekonomi. Itu membutuhkan semangat, pengetahuan, dan kolaborasi yang kuat,” ujarnya.

Isu strategis yang menjadi perhatian meliputi:

  • Rendahnya optimalisasi pemasaran digital UMKM kreatif.
  • Keterbatasan branding produk lokal di pasar nasional dan global.
  • Perlunya integrasi data dan promosi berbasis teknologi.
  • Tantangan monetisasi konten kreatif berbasis digital.

Dengan pendekatan terstruktur, Komite Ekraf akan menjadi supporting system dalam memperkuat jejaring, pendampingan, hingga fasilitasi promosi digital.

17 Subsektor Ekraf: Mesin Baru Pertumbuhan Daerah

Pengembangan 17 subsektor ekonomi kreatif—mulai dari *kuliner, kriya, fesyen, seni pertunjukan, fotografi, film, animasi, hingga aplikasi digital$—diposisikan sebagai mesin pertumbuhan baru.

Sukabumi memiliki kekuatan pada basis komunitas kreatif dan kekayaan destinasi wisata. Ketika keduanya dipadukan melalui strategi digitalisasi, potensi nilai tambah meningkat signifikan.

Pariwisata tidak lagi hanya menjual panorama, tetapi juga pengalaman berbasis kreativitas: konten digital destinasi, produk kriya dengan branding global, kuliner lokal yang terhubung dengan platform daring, hingga event kreatif yang terkurasi secara profesional.

Model Kolaborasi: Dari Daerah untuk Nasional

Dalam konteks pembangunan nasional, ekonomi kreatif menjadi sektor prioritas karena relatif tahan terhadap gejolak global dan berbasis inovasi. Kabupaten Sukabumi menempatkan diri sebagai model kolaborasi daerah yang terintegrasi.

Resolusi strategis yang disepakati meliputi:

1. Penyusunan roadmap ekonomi kreatif 2026–2030.

2. Penguatan kapasitas SDM kreatif berbasis digital.

3. Integrasi promosi pariwisata dan produk kreatif.

4. Penguatan jejaring kemitraan lintas sektor.

Langkah ini memperlihatkan bahwa transformasi ekonomi daerah tidak bisa berjalan sektoral. Diperlukan orkestrasi kebijakan, komunitas, dan pasar.

Dari Lokal Menuju Global

Transformasi digital bukan sekadar adaptasi teknologi, melainkan perubahan paradigma. Produk kreatif Sukabumi didorong untuk:

  • Memiliki identitas merek yang kuat.
  • Menggunakan platform digital sebagai etalase global.
  • Mengintegrasikan storytelling budaya dan kearifan lokal.
  • Meningkatkan standar kualitas dan keberlanjutan produksi.

Ali Iskandar menegaskan bahwa tujuan akhir dari strategi ini adalah kesejahteraan masyarakat.

“Kolaborasi adalah kunci. Ketika energi bersama terbangun, ekonomi kreatif akan menghadirkan manfaat yang nyata bagi masyarakat.”

Dengan pendekatan ini, Sukabumi tidak hanya memperkuat ekonomi kreatif daerah, tetapi juga berkontribusi pada agenda besar penguatan ekonomi kreatif Indonesia di era digital.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru