Sukabuminow.com || Regenerasi petani menjadi isu strategis yang kini menjadi fokus Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi. Melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services (YESS), dinas mendorong lahirnya wirausahawan muda pertanian sebagai motor penggerak ekonomi desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Salah satu instrumen penting dalam program ini adalah Hibah Kompetitif (HK), yakni dukungan modal usaha yang ditujukan kepada pemuda tani yang telah mengikuti pelatihan dan membangun usaha aktif di sektor pertanian. Pada Kamis (31/7/25), Dinas Pertanian melaksanakan penandatanganan Berita Acara Serah Terima (BAST) tahap kedua untuk pencairan hibah tersebut.
Menurut Sekretaris Dinas Pertanian, Iman Suryaman, pemberian hibah ini tidak semata bentuk bantuan finansial, melainkan bagian dari strategi pembangunan jangka panjang untuk mencetak pelaku agribisnis muda yang tangguh dan berdaya saing global.
“Program ini dirancang bukan hanya untuk memberi modal, tetapi untuk menumbuhkan jiwa kewirausahaan dan membuka akses generasi muda terhadap peluang ekonomi di sektor pertanian,” ujar Iman, Jumat (1/8/25).
Program YESS sendiri merupakan kolaborasi antara Kementerian Pertanian Republik Indonesia dan International Fund for Agricultural Development (IFAD). Di Kabupaten Sukabumi, implementasinya difokuskan pada penguatan kapasitas pemuda desa agar tidak hanya menjadi tenaga kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja di sektor pertanian.
Lebih jauh, Iman menekankan bahwa keberlanjutan program ini menjadi kunci bagi transformasi ekonomi pedesaan. Dengan semakin banyaknya pemuda yang memilih pertanian sebagai pilihan hidup dan sumber penghidupan, maka ketahanan pangan dan kesejahteraan desa dapat ditingkatkan secara signifikan.
“Regenerasi petani adalah fondasi pembangunan pertanian masa depan. Kita tidak bisa berharap banyak jika anak-anak muda tidak lagi melihat pertanian sebagai sektor yang prospektif,” tegasnya.
Dengan berlanjutnya tahapan hibah ini, Dinas Pertanian berharap akan tumbuh ekosistem pertanian yang lebih inovatif dan modern, sekaligus mematahkan stigma lama bahwa bertani bukan profesi yang menjanjikan.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana
