Serentaun Kasepuhan Gelar Alam 2025, Tradisi Adat yang Selalu Ditunggu Wisatawan

Sukabuminow.com || Kampung Adat Gelar Alam di Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, akan kembali menggelar perayaan adat tahunan Serentaun pada 2–5 Oktober 2025. Kegiatan adat yang sudah berlangsung secara turun-temurun ini akan menjadi momentum penting bagi masyarakat adat sekaligus daya tarik wisata budaya yang dinantikan wisatawan nusantara hingga mancanegara.

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menyampaikan bahwa Serentaun merupakan perayaan adat sebagai bentuk rasa syukur masyarakat adat kasepuhan atas hasil panen. Tradisi ini tidak hanya bermakna sakral, tetapi juga menjadi magnet pariwisata budaya yang mampu menarik minat wisatawan.

“Serentaun adalah warisan budaya yang tidak ternilai. Kehadirannya selalu ditunggu-tunggu, bukan hanya oleh masyarakat adat, tetapi juga oleh wisatawan nusantara dan mancanegara yang ingin menyaksikan keunikan tradisi leluhur kita. Kami mengajak seluruh masyarakat Sukabumi dan sekitarnya untuk hadir dan menyemarakkan Serentaun Kasepuhan Gelar Alam 2025,” ujar Sendi, Jumat (3/10/25).

Jejak Sejarah Serentaun

Tradisi Serentaun diyakini sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan diwariskan dari generasi ke generasi oleh masyarakat adat kasepuhan di Tatar Sunda. Kata Serentaun berasal dari “sérén taun” yang berarti menyerahkan atau mengakhiri tahun. Ritual ini menandai pergantian musim tanam sekaligus rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil panen padi.

Dalam pelaksanaannya, padi hasil panen disimpan di lumbung tradisional yang disebut leuit, simbol kesejahteraan dan kedaulatan pangan masyarakat kasepuhan. Prosesi adat biasanya dipimpin oleh seorang sesepuh girang sebagai tokoh adat tertinggi.

“Serentaun bukan sekadar pesta adat, tetapi juga warisan yang mengajarkan kita tentang rasa syukur, kemandirian pangan, dan harmoni dengan alam. Nilai-nilai ini relevan dengan kehidupan modern dan patut terus dijaga,” jelas Sendi.

Lebih dari Sekadar Ritual Adat

Serentaun tidak hanya menjadi ritual adat masyarakat kasepuhan, melainkan juga momentum memperkenalkan kearifan lokal kepada publik luas. Berbagai kegiatan digelar, mulai dari prosesi adat, pertunjukan seni tradisional, hingga pameran hasil bumi dan kerajinan lokal.

Yang menarik, perayaan ini juga menampilkan gastronomi khas kasepuhan yang selalu memikat wisatawan. Beragam kuliner tradisional Sunda tersaji, mulai dari nasi liwet dengan lauk ikan asin dan sambal terasi, sayur asem khas kasepuhan, hingga kudapan seperti dodol ketan hitam, rangginang, dan kue cucur. Semua hidangan tersebut tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga sarat makna filosofi tentang kebersamaan dan kesederhanaan hidup.

Bagi wisatawan nusantara maupun mancanegara, pengalaman mencicipi kuliner tradisional ini menjadi daya tarik tersendiri karena setiap sajian menyimpan cerita tentang alam, hasil bumi, dan kearifan lokal masyarakat kasepuhan.

“Melalui Serentaun, wisatawan dapat menyaksikan langsung harmoni antara masyarakat dengan alam serta mencicipi kuliner tradisional khas kasepuhan yang menjadi bagian dari warisan budaya tak benda,” imbuh Sendi.

Serentaun di Berbagai Kasepuhan Sukabumi

Selain di Kasepuhan Gelar Alam yang dipimpin Abah Ugi Rakasiwi selaku pemimpin, tradisi Serentaun juga rutin digelar di beberapa kasepuhan lain di Kabupaten Sukabumi, seperti Kasepuhan Sinarresmi dan Cipta Mulya di Kecamatan Cisolok, Kasepuhan Ciptarasa di Kecamatan Cikakak, hingga Kasepuhan Girijaya di Kecamatan Cidahu.

Masing-masing kasepuhan memiliki kekhasan dalam pelaksanaan tradisi, termasuk dalam suguhan gastronomi adat. Ada yang menonjolkan sajian berbahan dasar umbi-umbian, ada pula yang menampilkan kuliner olahan padi sebagai bentuk penghormatan kepada Dewi Sri, simbol kesuburan dalam tradisi Sunda.

“Serentaun di berbagai kasepuhan di Sukabumi selalu memiliki daya tarik tersendiri. Setiap kasepuhan memiliki ciri khas adat, seni budaya, dan sajian kuliner tradisional yang berbeda, sehingga selalu menarik untuk disaksikan dan dinikmati,” jelas Sendi.

Diharapkan Jadi Daya Ungkit Pariwisata

Sendi menegaskan bahwa pelestarian tradisi Serentaun sejalan dengan visi pengembangan pariwisata Kabupaten Sukabumi yang berbasis budaya dan kearifan lokal. Dengan promosi yang tepat, Serentaun diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan serta memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, termasuk pelaku UMKM kuliner.

“Serentaun adalah salah satu bukti bahwa Sukabumi memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. Mari kita bersama-sama hadir, mendukung, dan mempromosikan tradisi ini agar tetap lestari sekaligus menjadi daya tarik unggulan pariwisata Sukabumi,” pungkasnya.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru