Kabupaten SukabumiKriminal dan Hukum

Scientific Crime Investigation di Balik Kasus NS Jampangkulon Sukabumi: Metode Ilmiah yang Tentukan Arah Penegakan Hukum

Sukabuminow.com || Kasus kematian NS (13 th), anak asal Jampangkulon, Kabupaten Sukabumi, tidak hanya menjadi perhatian publik karena dugaan kekerasan yang menyertainya. Lebih dari itu, perkara ini mengemuka secara nasional karena pendekatan penyidikan yang digunakan kepolisian: Scientific Crime Investigation (SCI).

Kapolres Sukabumi, AKBP Samian, menegaskan bahwa sejak perkara dinaikkan ke tahap penyidikan, seluruh proses dilakukan berbasis metode ilmiah dan pembuktian objektif.

“Penanganan perkara ini dilakukan secara Scientific Crime Investigation. Kami bekerja profesional, independen, dan tidak under pressing terhadap dinamika media sosial,” tegasnya, Senin (23/2/26).

Lalu, apa sebenarnya Scientific Crime Investigation itu?

Apa Itu Scientific Crime Investigation?

Scientific Crime Investigation (SCI) adalah metode penyidikan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi forensik. Dalam sistem ini, penyidik tidak hanya bertumpu pada pengakuan atau keterangan saksi, tetapi mengedepankan pembuktian ilmiah yang dapat diuji secara hukum.

SCI mencakup beberapa komponen utama:

1. Olah TKP berbasis forensik Mengamankan dan menganalisis barang bukti secara ilmiah.

2. Pemeriksaan medis dan autopsi Menentukan sebab kematian melalui visum dan autopsi oleh ahli forensik.

3. Uji laboratorium forensik Termasuk uji toksikologi untuk mendeteksi zat tertentu dalam tubuh korban.

4. Psikologi forensik Menggali kondisi psikologis korban maupun lingkungan terdekat.

5. Analisis konsistensi saksi Keterangan saksi diuji silang untuk membangun konstruksi hukum yang utuh.

Dalam kasus NS di Jampangkulon, seluruh tahapan tersebut diterapkan secara simultan.

Implementasi SCI dalam Kasus NS

Kapolres Sukabumi menjelaskan bahwa setelah ditemukan alat bukti awal yang mengindikasikan adanya dugaan tindak pidana kekerasan fisik maupun psikis terhadap korban, perkara dinaikkan ke tahap penyidikan.

Langkah-langkah konkret yang dilakukan meliputi:

  • Pemeriksaan 16 saksi
  • Penyusunan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) secara berjenjang
  • Pendalaman luka berdasarkan hasil visum luar
  • Koordinasi dengan dinas terkait
  • Pelibatan Mabes Polri untuk uji toksin forensik

Dari hasil visum luar, ditemukan luka pada badan dan wajah korban yang diduga akibat trauma panas dan trauma benda tumpul. Namun, kepolisian masih menunggu hasil autopsi menyeluruh dari ahli forensik sebagai bagian integral dari pembuktian ilmiah.

“Kami mendalami seluruh alat bukti secara hati-hati. Penegakan hukum harus berbasis data dan fakta ilmiah agar tidak mudah dipatahkan di persidangan,” ujar AKBP Samian.

Mengapa SCI Penting dalam Kasus Kekerasan Anak?

Dalam perkara yang menyangkut anak, pembuktian ilmiah menjadi krusial karena:

  • Korban tidak lagi dapat memberikan keterangan
  • Potensi manipulasi keterangan saksi cukup tinggi
  • Tekanan opini publik dapat memengaruhi persepsi

SCI memastikan bahwa setiap kesimpulan penyidik berdiri di atas minimal dua alat bukti sah sebagaimana diatur dalam hukum acara pidana.

Pendekatan ini juga melindungi asas praduga tak bersalah, karena setiap dugaan diuji melalui laboratorium dan analisis ahli, bukan asumsi.

Dari Lokal ke Nasional

Kasus NS di Jampangkulon menjadi cermin bagaimana metode modern kepolisian diterapkan di tingkat daerah. Penanganan yang melibatkan Mabes Polri menunjukkan bahwa perkara lokal dapat memiliki dimensi nasional ketika menyangkut perlindungan anak dan akuntabilitas penegakan hukum.

Secara lebih luas, pendekatan Scientific Crime Investigation menjadi standar penting dalam reformasi penegakan hukum di Indonesia—menggeser paradigma lama berbasis pengakuan menuju pembuktian ilmiah.

Komitmen Profesional dan Independensi

Kapolres Sukabumi menegaskan bahwa pihaknya tetap menjaga independensi dan profesionalitas dalam penanganan perkara.

“Kami mohon dukungan masyarakat agar proses ini berjalan objektif, transparan, dan akuntabel. Semua akan kami buktikan melalui mekanisme hukum yang sah,” pungkasnya.

Di tengah derasnya opini publik, pendekatan Scientific Crime Investigation menjadi fondasi utama agar kebenaran dalam kasus NS tidak sekadar menjadi narasi, melainkan fakta hukum yang teruji.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

Berita Terkait

Back to top button

You cannot copy content of this page