Tangis Haru di Lapas Sukabumi, 309 Napi Dapat Remisi Lebaran

Sukabuminow.com || Suasana Lebaran biasanya identik dengan pelukan keluarga, hidangan hangat, dan kebersamaan. Namun di dalam tembok tinggi Lapas Kelas IIB Sukabumi, Sabtu (21/3/26), kebahagiaan hadir dalam bentuk yang berbeda, yakni selembar harapan bernama remisi.

Sebanyak 309 warga binaan menerima pengurangan masa hukuman dalam momentum Idulfitri 1447 Hijriah. Meski sederhana, momen itu menjadi sangat berarti, menjadi sebuah tanda bahwa perubahan selalu punya ruang, bahkan dari balik jeruji.

Di lapangan serbaguna lapas, prosesi berlangsung khidmat. Nama-nama dibacakan satu per satu melalui Surat Keputusan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Republik Indonesia. Beberapa wajah tampak menunduk, sebagian lain tak kuasa menyembunyikan rasa haru.

Bagi mereka, Lebaran kali ini bukan tentang pulang, melainkan tentang kesempatan kedua.

Dari total penerima, sebanyak 180 narapidana berasal dari kasus narkotika, disusul 127 kasus pidana umum, dan dua kasus korupsi. Angka-angka itu mungkin berbeda, tetapi harapan mereka sama, menjadi pribadi yang lebih baik.

Besaran remisi yang diterima pun bervariasi. Ada yang mendapat 15 hari, satu bulan, hingga satu bulan 15 hari pengurangan masa hukuman. Namun satu hal yang menjadi catatan, tahun ini tidak ada satu pun warga binaan yang langsung bebas.

Meski begitu, rasa syukur tetap terasa. Sebab bagi mereka, setiap hari yang berkurang adalah langkah mendekat menuju kebebasan.

Kepala Lapas Kelas IIB Sukabumi, Budi Hardiono, menyebut bahwa remisi bukan sekadar angka pengurangan masa hukuman.

Lebih dari itu, remisi adalah bentuk pengakuan atas usaha memperbaiki diri, sebuah bukti bahwa proses pembinaan tidak sia-sia.

“Ini menjadi motivasi agar warga binaan terus berubah dan tidak kembali mengulangi kesalahan,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan, Idulfitri tetap menghadirkan makna mendalam. Bukan hanya tentang kemenangan setelah menahan diri, tetapi juga tentang memulai kembali.

Lebaran di dalam lapas memang berbeda. Tak ada keluarga yang datang memeluk, tak ada suasana rumah yang hangat. Namun di sana, harapan tetap tumbuh—pelan, tapi pasti.

Remisi menjadi simbol bahwa setiap manusia berhak atas kesempatan kedua. Dan di Sukabumi, pada hari kemenangan itu, 309 orang kembali diingatkan, bahwa masa lalu bukan akhir dari segalanya.

RReporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru