Sukabuminow.com || Ratusan kepala keluarga (KK) di Kedusunan Kaungluwuk, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, masih terisolasi pascalongsor besar dan banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut pada Kamis (6/3/25) malam.
Hingga Rabu (12/3/25), akses jalan di wilayah terdampak masih tertutup material longsoran. Upaya pembersihan telah dilakukan menggunakan alat berat, namun hanya tersedia ekskavator kecil (beko), yang kurang memadai untuk menangani timbunan tanah dan puing dalam jumlah besar. Selain itu, aliran listrik di wilayah tersebut masih mati total sejak bencana terjadi, membuat kondisi semakin sulit bagi warga.
Tujuh Kampung Terdampak Parah
Kepala Dusun Kaungluwuk, Buhori Muslim, menjelaskan bahwa kedusunan ini terdiri dari 14 kampung yang terbagi dalam 3 RW dan 17 RT. Dari jumlah tersebut, tujuh kampung mengalami dampak paling parah, yakni Ciseupan, Babakan Wareng, Babakan Peundeuy, Cikadaka, Cipanas, Babakan Cisarua, dan Beber.
“Sebanyak 263 KK terdampak langsung, dengan lebih dari 20 rumah mengalami kerusakan berat hingga hanyut terbawa arus. Puluhan rumah lainnya mengalami rusak sedang dan ringan,” ungkap Buhori saat ditemui di lokasi, Rabu siang.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, warga juga mengalami kehilangan nyawa. Seorang perempuan warga Kampung Babakan Cisarua, Ooy, meninggal dunia akibat tertimbun longsor.
Kondisi Warga: Mengungsi dan Bertahan Tanpa Listrik
Dampak dari bencana ini membuat banyak warga terpaksa mengungsi ke rumah keluarga atau mencari tempat tinggal sementara dengan menyewa. Hingga kini, wilayah tersebut masih belum mendapat pasokan listrik dari PLN.
“Listrik mati sejak peristiwa banjir dan longsor. Sampai sekarang belum menyala, dan kami sangat berharap bisa segera dipulihkan. Saat ini warga hanya bisa mengandalkan genset untuk penerangan dan kebutuhan sehari-hari,” kata Buhori.
Dengan kondisi jalan yang masih tertutup dan listrik yang belum pulih, warga Kaungluwuk berharap adanya percepatan dalam penanganan bencana agar kehidupan mereka bisa kembali normal. (Edo)
Redaktur : Andra Permana
