Niat Liburan, Malah Terjebak Macet Parah di Sukabumi hingga Berjam-jam

Sukabuminow.com || Libur Lebaran yang seharusnya menjadi momen bahagia justru berubah menjadi pengalaman melelahkan bagi ribuan wisatawan di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Alih-alih menikmati deburan ombak lebih cepat, para pelancong justru harus “berdiam” di balik kemudi selama berjam-jam. Jalur menuju Palabuhanratu dan Geopark Ciletuh dilaporkan lumpuh pada H+1 Lebaran, Minggu (22/3/26).

Sejak pagi, antrean kendaraan sudah mengular panjang di ruas Warungkiara. Mobil demi mobil hanya mampu bergerak beberapa meter, lalu kembali terhenti.

Tak sedikit yang akhirnya menyerah dengan keadaan.

“Saya berangkat pagi dengan harapan bisa cepat sampai, tapi sampai siang masih di jalan. Macetnya luar biasa, hampir tidak bergerak,” ungkap Romli (38 th), wisatawan asal Cianjur.

Cerita serupa datang dari Erik (39 th), pengendara asal Bandung. Ia bahkan mengaku sudah lebih dari tiga jam terjebak di jalur wisata.

“Sudah tiga jam lebih, maju sedikit-sedikit. Kendaraan dari luar daerah bercampur semua, benar-benar padat,” katanya.

Pemandangan yang terjadi bukan sekadar padat biasa. Ini adalah kombinasi antara euforia liburan dan keterbatasan infrastruktur.

Ribuan kendaraan dari berbagai kota seperti Jakarta, Bogor, Bandung, hingga Cianjur tumpah ruah di jalur yang sama, jalur sempit, berkelok, dan penuh titik rawan.

Di beberapa titik, kemacetan makin parah akibat aktivitas pasar tradisional dan persimpangan yang tidak mampu menampung lonjakan arus.

Bahkan kendaraan pikap berpenumpang di bak terbuka ikut memperlambat laju arus. Situasi ini membuat jalur wisata Sukabumi seperti “terkunci”.

Lonjakan drastis wisatawan ternyata sudah diprediksi. Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi, Ali Iskandar, menyebut ada fenomena “balas dendam wisata” yang terjadi tahun ini.

Setelah dua tahun terakhir libur Lebaran terganggu cuaca ekstrem, masyarakat kini memanfaatkan momentum cuaca cerah untuk berlibur.

Musim kemarau yang datang lebih cepat menjadi faktor pendorong utama. Belum lagi promosi wisata yang masif, membuat minat masyarakat meningkat tajam dalam waktu bersamaan.

Namun, satu hal yang belum berubah: kapasitas jalan. Ketika jumlah kendaraan melonjak drastis, jalur yang sama tetap digunakan, dan akhirnya kewalahan.

Pihak kepolisian sudah melakukan berbagai upaya, mulai dari pengaturan lalu lintas hingga rekayasa jalur. Sistem buka-tutup diberlakukan di sejumlah titik, serta pengalihan ke jalur alternatif.

Namun, derasnya arus kendaraan membuat upaya tersebut belum mampu mengurai kemacetan secara signifikan. Pengendara pun diminta tetap bersabar dan tidak melanggar aturan.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Sukabumi tetap berupaya menjaga kenyamanan wisatawan, termasuk dengan menyiagakan lifeguard dan memperkuat penanganan sampah di kawasan pantai.

Jika kondisi hari ini saja sudah membuat ribuan orang terjebak hingga berjam-jam, situasi di akhir pekan diprediksi bisa lebih ekstrem.

Lonjakan wisatawan diperkirakan mencapai puncaknya pada 28–29 Maret 2026. Artinya, kemacetan panjang masih akan menjadi “harga” yang harus dibayar para pemburu liburan di Sukabumi.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru