Konvoi Brutal di Sukabumi: Pemuda Luka Bacok, Dugaan Salah Sasaran Menguat
Sukabuminow.com || Aksi konvoi kendaraan bermotor kembali menjadi sorotan setelah berujung kekerasan brutal di wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Seorang pemuda, Deri Apriyansyah (19 th), menjadi korban dugaan penganiayaan disertai pembacokan oleh sekelompok pengendara motor yang melintas pada Jumat (20/3/26) malam.
Insiden ini terjadi sekitar pukul 22.30 WIB di Jalan Raya Mareleng–Pasirpanjang, tepatnya di Kampung Pasirnangkiran, wilayah perbatasan Desa Pasirpanjang, Kecamatan Ciracap dan Desa Caringinnunggal, Kecamatan Waluran. Lokasi yang relatif sepi dan minim penerangan diduga menjadi faktor pendukung terjadinya aksi kekerasan tersebut.
Berdasarkan penelusuran di lapangan dan keterangan saksi, peristiwa bermula saat korban tengah mendorong sepeda motornya yang mengalami ban bocor di pinggir jalan. Dalam kondisi sendirian, korban tiba-tiba dihampiri rombongan konvoi sepeda motor berjumlah sekitar 20 unit.
Alih-alih sekadar melintas, sebagian rombongan justru berhenti dan langsung melakukan penyerangan.
“Tidak ada percakapan atau pemicu. Mereka langsung menyerang korban,” ungkap Kapospol Waluran, Aipda Hendarko, Sabtu (21/3/26).
Pola serangan yang spontan tanpa interaksi ini memperkuat dugaan bahwa aksi tersebut bukan konflik personal, melainkan bentuk kekerasan acak yang berpotensi membahayakan masyarakat luas.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban mengalami luka terbuka di paha kanan akibat sabetan senjata tajam yang diduga jenis celurit. Selain itu, ditemukan luka lebam di bagian pelipis dan tangan kanan.
Tidak hanya menyerang fisik, pelaku juga merusak kendaraan milik korban. Fakta ini mengindikasikan adanya unsur kekerasan kolektif yang terkoordinasi, bukan sekadar tindakan spontan individu.
Sejumlah saksi menyebut, beberapa anggota konvoi memang terlihat membawa benda menyerupai senjata tajam. Hal ini membuka kemungkinan adanya unsur perencanaan atau kebiasaan membawa senjata dalam aktivitas konvoi tersebut.
Dari hasil pendalaman sementara, aparat menduga korban merupakan salah sasaran. Tidak ditemukan keterkaitan antara korban dengan rombongan pelaku.
Jika dugaan ini benar, maka fenomena konvoi bermotor di wilayah selatan Sukabumi telah bergeser menjadi ancaman keamanan publik yang serius, di mana siapa pun bisa menjadi korban secara acak.
Kondisi ini menjadi alarm bagi aparat dan pemerintah daerah, mengingat aktivitas konvoi serupa kerap terjadi, terutama pada malam hari dan akhir pekan.
Petugas patroli gabungan dari wilayah Kecamatan Waluran yang menerima laporan segera menuju lokasi untuk melakukan penanganan awal. Korban dievakuasi dan langsung mendapatkan perawatan medis.
Polisi juga telah mengamankan sejumlah barang bukti di lokasi kejadian serta mulai mengumpulkan keterangan dari saksi-saksi.
“Kami masih melakukan penyelidikan untuk mengungkap pelaku dan motif kejadian. Korban juga diarahkan membuat laporan resmi untuk proses hukum lebih lanjut,” tegas Hendarko.
Kasus ini menambah daftar panjang insiden kekerasan yang melibatkan konvoi kendaraan bermotor di sejumlah daerah. Tanpa pengawasan ketat, aktivitas ini berpotensi menjadi ruang subur bagi tindakan kriminal, mulai dari intimidasi hingga kekerasan bersenjata.
Di Sukabumi, khususnya wilayah selatan, minimnya penerangan jalan, terbatasnya patroli malam, serta kondisi geografis yang luas menjadi tantangan tersendiri dalam pengawasan.
Aparat kepolisian mengimbau masyarakat untuk tetap tenang namun meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di malam hari. Warga juga diminta segera melapor jika menemukan aktivitas konvoi mencurigakan.
Di sisi lain, diperlukan langkah preventif yang lebih sistematis, mulai dari patroli rutin, penertiban konvoi, hingga penegakan hukum tegas terhadap pelaku yang membawa senjata tajam di ruang publik.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana




