Dampak Kemarau Kian Terasa, Petani Sukabumi Didorong Tanam Jagung dan Kedelai

Sukabuminow.com || Musim kemarau mulai memberikan tekanan terhadap sektor pertanian di berbagai daerah, termasuk Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Wilayah selatan menjadi kawasan yang paling rentan mengalami kekeringan karena sebagian besar lahan pertaniannya masih mengandalkan air hujan.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan hasil pemantauan lapangan menunjukkan sejumlah sentra pertanian mulai memasuki fase rawan kekeringan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi produktivitas padi apabila tidak segera diantisipasi.

“Hasil pemantauan kami di lima kecamatan, khususnya wilayah selatan, menunjukkan daerah-daerah tersebut memang paling rawan saat musim kemarau. Salah satu contohnya di Kecamatan Tegalbuleud yang memiliki sekitar 2.300 hektare sawah tadah hujan,” ujar Aep, Selasa (4/8/26).

Menurutnya, lahan sawah tadah hujan sangat bergantung pada curah hujan sehingga pasokan air menjadi persoalan utama ketika musim kemarau berlangsung lebih lama dari biasanya.

Untuk mengurangi dampak kekeringan, berbagai langkah telah disiapkan. Salah satunya adalah mengusulkan bantuan pompa air dan pembangunan sumur bor kepada pemerintah pusat agar kebutuhan air irigasi petani tetap dapat terpenuhi.

“Upaya yang kami lakukan adalah mengusulkan bantuan pompa dan sumur bor ke kementerian. Harapannya, fasilitas tersebut dapat membantu petani mempertahankan produktivitas lahannya meskipun menghadapi musim kemarau,” katanya.

Selain memperkuat infrastruktur air, Dinas Pertanian juga mengarahkan petani agar memanfaatkan lahan dengan menanam komoditas yang lebih adaptif terhadap kondisi kering. Jagung dan kedelai menjadi dua tanaman yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan selama musim kemarau.

Aep menjelaskan, diversifikasi tanaman tidak hanya membantu menjaga pendapatan petani, tetapi juga mendukung program pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

“Kami juga menemukan petani yang mulai menanam jagung dan kedelai. Ini sejalan dengan program swasembada pangan yang sedang didorong pemerintah. Tahun ini target penanaman jagung mencapai sekitar 15.000 hektare dan kami optimistis target tersebut dapat direalisasikan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perubahan pola tanam merupakan salah satu strategi yang perlu diterapkan ketika kondisi cuaca tidak mendukung budidaya padi secara optimal. Pendampingan kepada kelompok tani juga terus dilakukan agar petani dapat memilih komoditas sesuai kondisi lahan dan ketersediaan air.

Sebagian lahan pertanian telah dipetakan berdasarkan tingkat kerawanannya terhadap kekeringan. Langkah tersebut dilakukan agar penyaluran bantuan dan intervensi pemerintah dapat berlangsung lebih cepat serta tepat sasaran.

Aep berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan para petani mampu menjaga produksi pertanian di tengah ancaman kemarau. Menurutnya, keberhasilan menghadapi musim kering tidak hanya bergantung pada bantuan infrastruktur, tetapi juga pada kemampuan petani beradaptasi dengan perubahan iklim.

“Dengan kolaborasi yang baik dan pemanfaatan teknologi pertanian, kami optimistis produksi pangan di Kabupaten Sukabumi tetap terjaga meskipun musim kemarau sedang berlangsung,” pungkasnya.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru