Sukabuminow.com || Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi sektor kelautan nasional, mulai dari perubahan iklim, penurunan kualitas lingkungan pesisir, hingga fluktuasi hasil tangkapan ikan, masyarakat pesisir Ujunggenteng, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali menunjukkan komitmennya menjaga tradisi sekaligus merawat laut sebagai sumber kehidupan.
Komitmen tersebut terlihat dalam puncak peringatan Syukuran Nelayan Ujunggenteng ke-60 Tahun 2026 yang berlangsung meriah di kawasan pesisir Kecamatan Ciracap, Minggu (14/6/26). Kegiatan yang telah berlangsung selama enam dekade itu tidak hanya menjadi simbol rasa syukur para nelayan, tetapi juga momentum penting untuk memperkuat ekonomi pesisir dan mendorong pembangunan berkelanjutan di wilayah selatan Jawa Barat.
Bupati Sukabumi, Asep Japar, yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan apresiasi kepada masyarakat Ujunggenteng yang mampu menjaga dan melestarikan tradisi Syukuran Nelayan hingga memasuki usia ke-60 tahun.
“Pemerintah Kabupaten Sukabumi menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh panitia dan masyarakat Ujunggenteng atas terselenggaranya Hari Nelayan Ujunggenteng ke-60 Tahun 2026. Tradisi ini merupakan warisan leluhur yang sangat berharga dan harus terus dijaga keberlangsungannya,” ujar Asjap didampingi sejumlah pejabat Pemkab Sukabumi dan instansi samping.
Menurutnya, Syukuran Nelayan bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Tradisi tersebut merupakan bentuk rasa syukur atas hasil laut yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat pesisir sekaligus pengingat pentingnya menjaga keberlanjutan sumber daya kelautan.
Di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan sektor perikanan, peringatan Hari Nelayan Ujunggenteng tahun ini menjadi relevan karena mengangkat pesan kuat tentang pelestarian laut dan penguatan ekonomi masyarakat pesisir.
“Perayaan ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil laut yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi momentum untuk merawat tradisi, menjaga kelestarian laut, serta memperkuat kebersamaan masyarakat pesisir,” katanya.
Asjap menilai Ujunggenteng memiliki modal besar untuk berkembang sebagai kawasan ekonomi berbasis kelautan dan pariwisata. Kekayaan sumber daya perikanan yang dipadukan dengan keindahan panorama pantai menjadi kekuatan strategis yang mampu menggerakkan perekonomian daerah.
Menurutnya, potensi tersebut harus dikelola secara berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh nelayan dan masyarakat setempat.
“Ujunggenteng dianugerahi potensi kelautan dan pariwisata yang luar biasa. Potensi ini harus dimanfaatkan sebagai roda penggerak ekonomi daerah yang berdampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat,” ungkapnya.
Pemerintah Kabupaten Sukabumi, lanjut Asjap, terus berkomitmen mendukung pengembangan sektor kelautan melalui pembangunan infrastruktur, bantuan sarana perikanan, hingga pengembangan wisata bahari yang terintegrasi.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menjaga kebersihan laut, mengurangi pencemaran sampah, serta menggunakan alat tangkap yang ramah lingkungan sebagai langkah nyata menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.
“Kita harus bersama-sama mengembangkan Ujunggenteng bukan hanya sebagai sentra perikanan, tetapi juga sebagai destinasi wisata unggulan yang nyaman dan ramah bagi wisatawan,” tegasnya.
Di tempat sama, Ketua Panitia Syukuran Nelayan Ujunggenteng ke-60 Asep Jeka, mengatakan peringatan tahun ini mengusung tema “Laut Lestari, Nelayan Berseri Menyongsong Kawasan Geopark Ciletuh-Palabuhanratu”.
Tema tersebut dinilai sangat relevan dengan arah pembangunan kawasan pesisir Sukabumi yang saat ini semakin terhubung dengan pengembangan destinasi wisata unggulan berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat.
Menurut Asep, pelaksanaan puncak acara tahun ini menyesuaikan kondisi musim melaut sehingga digelar pada Juni 2026. Biasanya, Hari Nelayan Ujunggenteng diperingati setiap bulan Mei.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, organisasi nelayan, pelaku usaha perikanan, sponsor, hingga masyarakat.
“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya kegiatan ini. Dukungan pemerintah, para nelayan, pelaku usaha, sponsor, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menjaga tradisi yang sudah berlangsung selama enam dekade,” ujarnya.
Selain upacara adat Larung Saji yang menjadi agenda utama, Syukuran Nelayan Ujunggenteng ke-60 juga menghadirkan berbagai kegiatan yang berdampak langsung terhadap masyarakat.
Mulai dari bazar UMKM, turnamen bola voli putra-putri, santunan anak yatim dan lansia, sunatan massal, tabligh akbar, aksi bersih pantai, hingga beragam perlombaan rakyat dan hiburan masyarakat.
Kegiatan tersebut tidak hanya menjaga keberlangsungan budaya pesisir, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi lokal melalui peningkatan aktivitas perdagangan, kunjungan wisatawan, dan promosi produk usaha mikro masyarakat.
Bagi masyarakat Ujunggenteng, laut bukan sekadar tempat mencari nafkah. Laut merupakan identitas budaya, ruang kebersamaan, sekaligus warisan yang harus dijaga keberlangsungannya untuk generasi mendatang.
“Dari Ujunggenteng kita belajar bahwa laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga sumber kehidupan, kebersamaan, budaya, dan kecintaan terhadap alam yang harus dijaga untuk generasi mendatang,” pungkas Asep Jeka.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
