Sukabuminow.com || Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Sri Hastuty Harahap, meninjau langsung pertanaman padi milik Kelompok Tani (Poktan) Tani Jaya di Desa Langkapjaya, Kecamatan Lengkong, yang berada di lahan sawah dengan kemiringan lereng antara 10 hingga 30 persen, Kamis (19/6/25). Monitoring dilakukan dalam rangka evaluasi pertanaman padi bulan Juni seluas 40 hektare yang dikelola dengan sistem terasering, salah satu teknik konservasi tanah yang sangat relevan untuk wilayah berbukit.
“Terasering menjadi pilihan utama dalam mengelola lahan miring seperti di sini. Selain mencegah erosi, sistem ini juga menjaga kesuburan tanah dan memudahkan distribusi air,” ujar Tuty, Jumat (20/6/25).
Apa Itu Terasering?
Terasering merupakan teknik pertanian yang dilakukan dengan cara membuat lahan bertingkat seperti tangga di daerah yang memiliki kemiringan tertentu. Tujuan utamanya adalah untuk mengurangi kecepatan aliran air, menahan tanah agar tidak terbawa air hujan, serta menjaga kandungan hara di lapisan atas tanah (topsoil) tetap stabil.
Menurut referensi dari berbagai literatur pertanian, termasuk yang diterbitkan oleh Kementerian Pertanian dan FAO (Food and Agriculture Organization), terasering sangat dianjurkan untuk daerah dengan topografi curam. Selain menjaga struktur tanah, teknik ini juga memudahkan proses irigasi dan memungkinkan petani untuk tetap menanam berbagai komoditas, terutama padi, dengan efisien.
Manfaat Terasering: Antara Konservasi dan Estetika
Secara teknis, struktur berundak pada sawah terasering berperan penting dalam menjaga keberlangsungan fungsi lahan pertanian di daerah miring. Dengan memperlambat limpasan air hujan, terasering membantu memperpanjang waktu infiltrasi air ke dalam tanah. Ini berarti kebutuhan akan penyiraman tambahan menjadi lebih sedikit.
“Terasering juga memberikan efek visual yang sangat mempesona. Hamparan sawah berundak terlihat seperti tangga hijau raksasa yang menyatu dengan kontur alam,” tambah Tuty.
Keindahan sawah terasering ini bahkan kerap menjadi daya tarik wisata tersendiri di berbagai wilayah pertanian di Indonesia, seperti di Bali, Toraja, hingga Garut. Kini, model serupa juga mulai banyak dijumpai di beberapa kecamatan di Sukabumi, termasuk Lengkong.
Terasering dan Kearifan Lokal
Lebih jauh, Tuty menyebutkan bahwa sistem terasering juga sejalan dengan konsep pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan. Penggunaan teknik ini bukan hanya untuk peningkatan hasil pertanian, tetapi juga merupakan bentuk adaptasi terhadap kondisi geografis serta penerapan kearifan lokal yang telah digunakan secara turun-temurun di berbagai daerah pegunungan di Indonesia.
“Ini bukan sekadar teknik, tapi bagian dari kearifan masyarakat dalam menyesuaikan diri dengan alam,” ujarnya.
Terasering, Pilar Ketahanan Pangan di Daerah Perbukitan
Dengan kombinasi manfaat ekologis, ekonomis, dan estetika, sistem terasering diyakini akan terus menjadi solusi strategis bagi daerah pertanian di wilayah perbukitan. Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi pun akan terus mendorong penerapan teknik ini, termasuk pelatihan dan pendampingan bagi petani di daerah dengan topografi serupa.
“Selama kita bijak dalam mengelola lahan dan tetap menjaga keseimbangan lingkungan, sektor pertanian akan tetap menjadi andalan dalam menjaga ketahanan pangan daerah,” pungkasnya.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
