Sukabuminow.com || Senja hari ke-20 Ramadan di halaman SDN 1 Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Selasa (10/3/26), menghadirkan suasana yang berbeda. Di tengah tenda pengungsian penyintas bencana pergerakan tanah yang terjadi di Kampung Cijambe RT 005/007, Desa Bantargadung, Kecamatan Bantargadung, warga berkumpul menunggu waktu berbuka puasa.
Bupati Sukabumi, Asep Japar dan jajarannya, datang langsung menemui mereka. Kehadiran orang nomor satu di Kabupaten Sukabumi tersebut membawa pesan kuat bahwa pemerintah daerah tidak membiarkan masyarakat menghadapi bencana sendirian.
Asjap terlihat menyapa warga satu per satu. Ia berbincang dengan para orang tua, menggendong anak-anak, hingga membagikan takjil kepada para penyintas yang sejak beberapa waktu terakhir harus meninggalkan rumah mereka.
Momen sederhana tersebut menjadi penguat moral bagi warga yang masih bertahan di pengungsian.
“Sebagai pemerintah daerah, kami ingin memastikan masyarakat tidak merasa sendiri. Kami hadir untuk memberikan semangat dan membantu meringankan beban warga,” ujar Asjap, hangat.
Dalam kesempatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Sukabumi juga menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) bagi warga terdampak bencana pergerakan tanah Bantargadung. Bantuan tersebut diberikan sebesar Rp3 juta per keluarga selama enam bulan.
Dana tersebut diharapkan dapat membantu warga menyewa rumah sementara sambil menunggu proses relokasi permanen yang sedang disiapkan pemerintah.
Asjap menegaskan, bahwa langkah ini diambil agar warga dapat tinggal di tempat yang lebih layak, terutama menjelang Hari Raya Idulfitri.
“Saya tidak tega melihat warga kami menjelang Lebaran masih berada di pengungsian. Karena itu, kami memberikan bantuan dana untuk mengontrak rumah tinggal sementara,” ungkapnya.
Penyaluran bantuan dilakukan secara simbolis melalui penyerahan buku tabungan kepada perwakilan warga terdampak.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan kehidupan masyarakat pascabencana.
Selain bantuan hunian sementara, Pemerintah Kabupaten Sukabumi juga tengah menyiapkan rencana relokasi permanen bagi penyintas bencana Bantargadung. Namun, proses penentuan lokasi relokasi tidak dilakukan secara terburu-buru.
Pemerintah memastikan bahwa lokasi yang dipilih harus benar-benar aman dan telah melalui kajian teknis terkait kondisi serta stabilitas lahan.
“Untuk penempatannya sudah ada gambaran, namun akan kami koordinasikan terlebih dahulu dengan pemerintah provinsi sekaligus dilakukan pengkajian apakah lahannya aman atau tidak,” jelas Asjap.
Kajian tersebut melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah provinsi dan tim teknis kebencanaan. Langkah ini dilakukan agar warga yang direlokasi nantinya dapat tinggal di kawasan yang aman dari potensi bencana serupa.
Di tempat sama, Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kabupaten Sukabumi, Sendi Apriadi, menjelaskan bahwa pihaknya tengah menyiapkan skema penanganan hunian bagi warga terdampak secara bertahap.
Menurutnya, bantuan Dana Tunggu Hunian merupakan langkah awal untuk memastikan warga dapat tinggal di tempat yang lebih layak sebelum relokasi permanen terealisasi.
“Disperkim memastikan proses penanganan hunian bagi warga terdampak dilakukan secara bertahap, mulai dari bantuan sementara hingga perencanaan relokasi yang aman dan layak huni,” ujar Sendi.
Ia menambahkan bahwa penentuan lokasi relokasi harus mempertimbangkan berbagai aspek penting, mulai dari keamanan lahan hingga kesiapan infrastruktur dasar.
“Kami ingin memastikan warga yang direlokasi nantinya benar-benar tinggal di kawasan yang aman serta memiliki akses terhadap fasilitas dasar seperti air bersih, jalan, dan lingkungan permukiman yang layak,” jelasnya.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah daerah untuk membangun kembali kehidupan masyarakat terdampak secara berkelanjutan.
Kunjungan Asjap dan jajarannya ke lokasi pengungsian Bantargadung juga bertepatan dengan hari terakhir masa status tanggap darurat bencana yang sebelumnya ditetapkan pemerintah daerah. Setelah fase tanggap darurat berakhir, penanganan bencana di wilayah tersebut akan memasuki masa transisi menuju pemulihan.
Tahapan ini difokuskan pada sejumlah agenda penting, seperti penyediaan hunian sementara, pemulihan kehidupan sosial masyarakat, serta persiapan relokasi bagi warga yang terdampak.
Bagi Pemerintah Kabupaten Sukabumi, proses pemulihan bukan sekadar membangun kembali rumah yang rusak akibat bencana.
Lebih dari itu, pemulihan juga berarti memastikan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan yang aman dan bermartabat.
Di tengah suasana Ramadan, kebersamaan antara pemerintah dan warga di posko pengungsian Bantargadung menjadi gambaran nyata dari semangat tersebut.
Ketika adzan Magrib berkumandang, warga dan pemerintah duduk bersama menikmati hidangan berbuka. Di balik kesederhanaan momen itu, tersimpan pesan yang kuat, yakni bahwa di tengah bencana sekalipun, harapan untuk bangkit tetap ada.
Dan bagi warga Bantargadung, kehadiran pemerintah menjadi salah satu penguat utama untuk menapaki masa depan setelah bencana.
Reporter: Iwan
Redaktur: Andra Permana
