BPJS Nonaktif Jadi Kendala, RSUD Palabuhanratu dan Pemerintah Desa Bergerak Bantu Pasien Diduga Tumor Asal Cikakak

Sukabuminow.com || Status kepesertaan BPJS Kesehatan yang tidak aktif masih menjadi salah satu kendala yang dihadapi sebagian masyarakat saat membutuhkan pelayanan kesehatan lanjutan. Kondisi itulah yang kini dialami Ade (52 th), warga Kampung Cicariang, Desa Ridogalih, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, yang sedang menjalani pemeriksaan medis terkait dugaan tumor.

Kasus tersebut sempat menjadi perhatian setelah pasien terlihat berada di area selasar Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Palabuhanratu. Namun, pihak rumah sakit menegaskan bahwa pasien tidak ditelantarkan dan tetap mendapatkan pelayanan medis sesuai kondisi kesehatannya.

Kepala Seksi Pelayanan Medis, Penunjang Medis, dan Logistik RSUD Palabuhanratu, dr. Rizky Tanjil, menjelaskan bahwa pasien telah diperiksa secara menyeluruh oleh dokter spesialis kandungan.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, kondisi pasien dinyatakan stabil dan belum memerlukan tindakan rawat inap darurat.

“Pasien sudah mendapatkan pemeriksaan dari dokter spesialis kandungan. Kondisinya stabil, tanda-tanda vital baik, dan pendarahan yang terjadi masih dalam kategori minimal sehingga sementara dapat menjalani pengobatan rawat jalan,” ujar Rizky, Senin (22/6/26).

Menurutnya, tindakan operasi memang menjadi salah satu rencana penanganan lanjutan sesuai perkembangan hasil pemeriksaan medis. Namun, proses tersebut membutuhkan dukungan administrasi jaminan kesehatan yang saat ini masih dalam tahap penyelesaian.

Berbeda dengan anggapan yang berkembang di masyarakat, RSUD Palabuhanratu justru mengambil langkah aktif untuk membantu penyelesaian persoalan administrasi pasien.

Begitu diketahui kepesertaan BPJS Kesehatan atau Kartu Indonesia Sehat (KIS) milik pasien tidak aktif, pihak rumah sakit langsung melakukan koordinasi dengan keluarga dan Pemerintah Desa Ridogalih.

Langkah tersebut dilakukan agar proses pengaktifan kembali kepesertaan dapat segera diproses sehingga pasien dapat memperoleh akses pelayanan kesehatan lanjutan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Kami sudah memanggil keluarga pasien dan berkoordinasi dengan pihak desa. Kami menjelaskan prosedur yang harus ditempuh dan bersama-sama berupaya membantu pengaktifan kembali KIS pasien,” kata Rizky.

Ia menambahkan, komunikasi antara rumah sakit, keluarga pasien, dan pemerintah desa terus dilakukan agar tidak terjadi kesalahpahaman terkait pelayanan yang diberikan.

RSUD Palabuhanratu juga meluruskan informasi mengenai keberadaan pasien di selasar IGD.

Menurut Rizky, pasien dan keluarga memilih tetap berada di sekitar rumah sakit karena diliputi kekhawatiran jika pendarahan kembali terjadi saat berada di rumah.

Terlebih, pasien sebelumnya sempat mengalami pendarahan yang cukup banyak sehingga keluarga merasa lebih aman berada dekat dengan fasilitas kesehatan.

“Kekhawatiran itu sangat bisa dipahami. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan terakhir, kondisi pasien stabil dan belum membutuhkan perawatan inap. Hal tersebut juga sudah dijelaskan kepada keluarga,” terangnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh keputusan medis yang diambil mengacu pada hasil pemeriksaan dokter dan kondisi klinis pasien saat itu.

Ia berharap proses pengaktifan KIS pasien dapat segera selesai sehingga seluruh tahapan pengobatan, termasuk rencana operasi apabila diperlukan secara medis, dapat berjalan tanpa hambatan.

Fokus kami saat ini adalah memastikan pasien tetap mendapatkan pelayanan medis sesuai kebutuhannya sekaligus membantu penyelesaian administrasi agar penanganan lanjutan dapat segera dilakukan,” tutup Rizky.

Sementara itu, pihak keluarga juga terus berkoordinasi dengan pemerintah desa dan rumah sakit agar akses layanan kesehatan yang dibutuhkan pasien dapat segera terpenuhi.

Menantu pasien, Budiman, mengungkapkan bahwa kondisi mertuanya sempat memburuk setelah mengalami pendarahan sehingga kembali dibawa ke RSUD Palabuhanratu pada Minggu (21/6/26).

Menurutnya, sehari sebelumnya pasien telah menjalani pemeriksaan di rumah sakit dan sempat diminta pulang karena kondisi dinilai memungkinkan untuk menjalani rawat jalan. Namun, saat berada di rumah, pendarahan kembali terjadi sehingga keluarga memutuskan membawa pasien kembali ke IGD.

“Dokter menyampaikan ada dugaan tumor dan perlu dilakukan tindakan pengangkatan. Setelah pulang, kondisi kembali memburuk karena terjadi pendarahan, sehingga kami membawa pasien lagi ke rumah sakit,” ujar Budiman.

Ia menjelaskan bahwa keluarga menerima informasi dari hasil pemeriksaan dan penunjang medis bahwa pasien membutuhkan tindakan operasi. Namun proses tersebut belum dapat dilaksanakan karena status BPJS Kesehatan maupun KIS pasien tidak aktif.

Kondisi itu membuat keluarga memilih tetap berada di lingkungan rumah sakit meskipun pasien tidak menjalani rawat inap. Keputusan tersebut diambil karena rumah pasien berada cukup jauh dari RSUD Palabuhanratu dan keluarga khawatir terjadi kondisi darurat apabila pasien dipulangkan.

“Kami khawatir apabila terjadi pendarahan lagi di rumah. Karena jaraknya cukup jauh, kami merasa lebih aman berada dekat dengan rumah sakit,” kata Budiman.

Selain itu, keluarga juga mengaku masih harus menanggung sejumlah kebutuhan pengobatan secara mandiri sambil menunggu kepastian administrasi jaminan kesehatan pasien.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru