Ketika Emosi Mengalahkan Nalar, Cerita Penganiayaan di Tegalbuleud Sukabumi

Sukabuminow.com || Malam itu seharusnya berjalan biasa bagi Ugan. Usai seharian bekerja sebagai buruh harian, ia melangkah pulang melewati jalan yang sudah akrab baginya, termasuk pos ronda yang menjadi titik berkumpul warga.

Namun Sabtu malam (28/3/26), menjadi titik balik yang tak pernah ia bayangkan.

Di tempat itulah, di bawah cahaya lampu seadanya, langkah Ugan terhenti. Seorang tetangga menghadangnya. Percakapan singkat terjadi, membahas sesuatu yang sebenarnya telah selesai dua pekan sebelumnya: soal upah memetik kelapa senilai Rp20 ribu.

Tak ada yang menyangka, percakapan itu berubah menjadi kekerasan.

Pukulan pertama mendarat. Disusul dua pukulan lain yang mengarah ke kepala dan telinga. Dalam hitungan detik, tubuh Ugan yang lelah tak lagi mampu bertahan.

Ia pulang dalam kondisi limbung.

Sesampainya di rumah, rasa sakit yang ditahan akhirnya pecah. Ugan berteriak, lalu terjatuh tak sadarkan diri di hadapan keluarganya. Kepanikan pun tak terhindarkan.

Air disiramkan. Warga berdatangan. Malam yang tenang berubah menjadi kecemasan.

Bagi keluarga, peristiwa ini bukan sekadar insiden kekerasan. Ada rasa tidak terima yang sulit dijelaskan.

Yuningsih, kakak ipar korban, masih mengingat jelas bagaimana persoalan itu seharusnya sudah selesai.

Upah telah dibayar. Pekerjaan telah rampung. Tidak ada sengketa yang tersisa.

Namun dua pekan kemudian, justru muncul kekerasan yang meninggalkan luka.

Bukan hanya luka di wajah, tetapi juga trauma yang kini harus ditanggung.

Keesokan harinya, pelaku sempat datang ke rumah korban. Ia meminta maaf. Mengaku khilaf.

Namun bagi keluarga, permintaan maaf tidak cukup.

Ada perasaan terancam yang masih tersisa, terutama setelah adanya dugaan intimidasi saat mereka mencoba meminta penjelasan pada malam kejadian.

Keputusan pun diambil, kasus ini harus diproses secara hukum.

Laporan dilayangkan ke kepolisian. Visum dilakukan. Proses hukum mulai berjalan.

Kapolsek Tegalbuleud memastikan bahwa pihaknya telah menerima laporan terkait dugaan penganiayaan tersebut dan akan menindaklanjutinya sesuai prosedur.

Pemeriksaan terhadap terlapor dijadwalkan segera dilakukan guna mengungkap secara utuh kronologi kejadian.

Polisi juga mengimbau masyarakat untuk menahan diri dan tidak menyelesaikan persoalan dengan kekerasan.

Peristiwa ini menjadi potret nyata bagaimana konflik kecil dapat berubah menjadi tragedi ketika emosi tidak terkendali.

Di banyak kampung, persoalan sederhana kerap diselesaikan secara kekeluargaan. Namun ketika komunikasi gagal, ruang dialog tertutup, dan emosi mengambil alih, yang tersisa hanyalah penyesalan.

Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru