Sukabuminow.com || Pascabencana banjir yang meluluhlantakkan Jembatan Cidadap di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, akses jalan nasional penghubung wilayah Pajampangan menuju pusat pemerintahan Kabupaten Sukabumi di Palabuhanratu lumpuh total. Kondisi ini menimbulkan keresahan mendalam di kalangan warga, terutama menjelang arus mudik dan kebutuhan mobilitas selama bulan Ramadan hingga Lebaran.
Penutupan total jalur nasional Bagbagan-Kiara Dua dinilai sangat berdampak pada aktivitas harian masyarakat, terlebih karena jalur ini menjadi nadi utama transportasi, termasuk bagi kawasan wisata unggulan Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp). Masyarakat kini menghadapi kesulitan dalam mengakses layanan, distribusi logistik, hingga aktivitas ekonomi.
Anggota DPRD Kabupaten Sukabumi dari Fraksi Gerindra, Taopik Guntur, angkat bicara terkait persoalan ini. Ia mendesak pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum untuk membuka kembali Jembatan Cidadap secara terbatas dengan sistem buka-tutup, demi kepentingan publik yang lebih luas.
“Iya, kami sudah menyampaikan permohonan resmi kepada Kementerian PU. Kami minta agar jembatan ini bisa difungsikan sementara, tujuh hari sebelum dan tujuh hari setelah Idulfitri, tentu dengan pengaturan buka-tutup dan pembatasan tonase kendaraan,” ujar Taopik pada Jumat (21/3/25).
Menurutnya, penutupan total tanpa opsi darurat memperparah dampak sosial dan ekonomi bagi warga yang sudah terdampak bencana. Ia menekankan pentingnya pemerintah memberikan solusi cepat dan efektif, mengingat kebutuhan transportasi meningkat tajam menjelang Lebaran.
“Jalur ini sangat vital. Kalau tetap ditutup tanpa solusi, banyak masyarakat yang akan terisolasi. Ini menyangkut kebutuhan pokok, aktivitas ekonomi, dan tentu saja keselamatan warga,” tambahnya.
Di sisi lain, ia juga menyoroti lambannya progres pembangunan jalan alternatif yang saat ini belum bisa dilalui kendaraan roda empat. “Kami harap jalur alternatif itu segera difungsikan lebih baik. Minimal bisa dilewati pikap. Jangan hanya pejalan kaki dan motor saja yang bisa lewat,” tegasnya.
Taopik pun mengingatkan semua pihak untuk tidak memanfaatkan bencana ini sebagai ladang keuntungan pribadi atau kelompok. Ia menegaskan bahwa penanganan bencana harus menempatkan masyarakat sebagai prioritas utama, bukan komoditas.
“Ini musibah, bukan peluang bisnis. Jangan sampai ada yang mencari keuntungan di tengah penderitaan warga. Kami ingin masyarakat dilindungi, bukan dikorbankan,” pungkasnya. (Edo)
Redaktur : Andra Permana
