Kabupaten SukabumiSosial

Sambut Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Sentra Phalamatra Kampanyekan Stop Pasung ODGJ

Sukabuminow.com || Kasus pemasungan terhadap orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Sukabumi masih tinggi. Hal itu disampaikan Kepala Sentra Phalamatra Kementerian Sosial RI, Cup Santo, di Panti Aura Welas Asih, Desa Jayanti, Kecamatan Palabuhanratu, Selasa (4/10/22).

Kedatangan Cup Santo ke Panti Aura Welas Asih dalam rangka menyambut peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober 2022 mendatang. Menurutnya, masih minimnya kesadaran masyarakat dalam penanganan gangguan jiwa membuat angka pemasungan masih tinggi.

“Apakah ini menggambarkan situasi nasional atau tidak, yang jelas pemasungan di Kabupaten Sukabumi cukup tinggi. Baru-baru ini kami membebaskan di daerah Cibadak dan Cisaat,” ujar Santo saat ditemui di sela kegiatan.

Soal data ia mengatakan, jumlah pemasungan tersimpan rapi di kantornya. Namun secara keseluruhan, jumlah pembebasan ODGJ yang dipasung mencapai belasan di tahun 2021.

“Jumlah pastinya saya harus melihat data. Tapi yang jelas tahun 2021 kemarin kita sudah membebaskan 15 orang. Lalu untuk tahun 2022 ini, sampai September kami sudah membebaskan sembilan orang. Semua yang kami bebaskan berawal dari informasi yang kami peroleh dari masyarakat,” terangnya.

Ia menegaskan, saat mendengar kasus pemasungan, pihaknya merespon dengan menghubungkannya ke pelayan sakit jiwa. Ia mencontohkan belum lama ini terdapat kasus pemasungan terhadap ODGJ berusia 13 tahun.

“Anak itu dipasung, kemudian kami respon langsung. Hari ini sudah mendapatkan layanan di RS Marzuki Mahdi,” jelasnya.

Menurutnya, terdapat beberapa faktor penyebab pemasungan. Selain faktor ekonomi, juga karena faktor pemahaman keluarga terhadap penderita gangguan kejiwaan.

“Ada juga faktor lelah karena terlalu lama mengurus dan beranggapan tidak ada hasil dalam penanganan medis. Hingga akhirnya dipasung dengan tujuan menjaga supaya tidak kabur jauh, tidak merusak, dan melukai orang lain. Tapi yang harus diingat, pemasungan itu melanggar hak asasi manusia,” bebernya.

Ia berpesan, jika menemukan anggota keluarga yang menunjukan gejala gangguan mental, masyarakat harus segera memeriksakan dan melakukan pendampingan. Selain itu, tunjukan perhatian dan kasih sayang.

“Yang harus diingat, setiap penyakit pasti ada obatnya,” pungkasnya. (Edo)

Editor : Andra Permana || E-mail Redaksi : sukabuminow8@gmail.com

Berita Terkait

Back to top button