Sukabuminow.com || Perayaan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Gunung Karamat, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, berlangsung meriah. Warga tidak sekadar memasang bendera dan menggelar perlombaan, tetapi menghadirkan tradisi unik berupa panjat 81 batang bambu, sesuai angka kemerdekaan tahun ini.
Ribuan warga memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan peserta berlomba mencapai puncak bambu yang telah disiapkan dengan berbagai hadiah. Tawa dan sorak-sorai pecah setiap kali peserta mulai memanjat, terjatuh, lalu kembali mencoba.
Kepala Desa Gunung Karamat, Subaeta, mengatakan panjat bambu tersebut merupakan kegiatan yang telah menjadi tradisi selama dirinya menjabat. Tahun ini menjadi pelaksanaan ketujuh.
“Ini yang ketujuh. Selama tujuh tahun ini, semenjak saya menjabat, kami mengadakan panjat bambu. Mulai dari 73, 76, sampai hari ini menjadi 81 tiang,” ujar Subaeta yang turut menjadi peserta dalam kegiatan yang digelar di Lapangan Desa Gunung Karamat itu, Sabtu (22/8/26).
Jumlah bambu yang dipanjat, katanya, bukan sekadar angka. Subaeta menjelaskan, jumlah tersebut sengaja disesuaikan dengan usia kemerdekaan Indonesia.
Jika sebelumnya jumlah bambu mengikuti angka peringatan kemerdekaan pada tahun-tahun sebelumnya, tahun ini 81 bambu menjadi simbol HUT RI ke-81.
Tradisi itu juga lahir dari semangat Desa Gunung Karamat untuk menghadirkan sesuatu yang berbeda dalam perayaan kemerdekaan.
“Prinsip kami adalah menciptakan hal-hal biasa menjadi luar biasa,” katanya.
Menurut Subaeta, kegiatan tersebut juga tidak terlepas dari sejarah Desa Gunung Karamat yang memiliki jejak perkebunan peninggalan Belanda. Semangat menghidupkan tradisi dan kebersamaan masyarakat kemudian dikemas melalui kegiatan perayaan kemerdekaan.
Panjat bambu menjadi puncak dari rangkaian perayaan HUT RI di Desa Gunung Karamat. Sebelumnya, masyarakat telah mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari turnamen sepak bola, perlombaan anak-anak dan ibu-ibu hingga hiburan serta kegiatan keagamaan.
“Mulai dari turnamen bola, perlombaan ibu-ibu dan anak-anak, hiburan seperti wayang, dangdut, reggae, pengajian, dan puncaknya hari ini panjat bambu,” tutur Subaeta.
Menariknya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi tontonan. Persiapannya juga dilakukan melalui kolaborasi pemerintah desa dan masyarakat.
“Anggaran kita dari gotong royong, kolaborasi antara pemerintah desa dengan warga,” ujar Subaeta.
Di tengah kemeriahan tersebut, Roni menjadi salah satu peserta yang berusaha menaklukkan bambu licin. Tangannya berkali-kali mencari pijakan, sementara sorakan warga terdengar dari bawah.
Bagi Roni, panjat bambu bukan semata-mata soal mendapatkan hadiah. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa ikut meramaikan peringatan kemerdekaan bersama warga sekampung.
Keringat, oli bekas yang melumuri bambu, dan jatuh bangun menjadi bagian dari perjuangan peserta. Namun, semangat untuk mencoba kembali justru menjadi daya tarik utama perlombaan.
“Seru. Saya ikut setiap tahun,” katanya sambil menahan beban rekan-rekannya yang menginjak pundaknya.
Tradisi panjat bambu di Gunung Karamat akhirnya menghadirkan makna yang lebih luas. 81 bambu menjadi simbol usia kemerdekaan, sedangkan perjuangan peserta menjadi gambaran kecil tentang semangat pantang menyerah dan gotong royong.
Bagi Subaeta, kemeriahan HUT RI bukan hanya tentang perlombaan. Kebersamaan warga menjadi nilai utama yang harus terus dipertahankan.
Reporter: Ade F
Redaktur: Andra Permana
