Terlantar di Perairan Fiji, Lima ABK Sukabumi Berharap Segera Pulang

Sukabuminow.com || Nasib tujuh anak buah kapal (ABK) asal Indonesia yang bekerja di kapal ikan berbendera China di perairan Fiji menjadi sorotan. Mereka mengaku terlantar karena gaji dan uang makan tidak dibayarkan selama berminggu-minggu.

Dari tujuh ABK tersebut, lima orang berasal dari Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, sedangkan dua lainnya berasal dari Batam dan Indramayu.

Salah seorang ABK asal Kampung Ciaun, Desa Citarik, Kecamatan Palabuhanratu, Teteng Surgana, mengatakan persoalan mulai terjadi sekitar tiga minggu sebelum dirinya menghubungi media.

Menurut Teteng, uang makan yang biasanya diberikan setiap pekan tiba-tiba dihentikan. Kondisi tersebut membuat para ABK kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Biasanya setiap minggu belanja, tiba-tiba hari Jumat pihak Fiji tidak memberikan uang makan,” kata Teteng saat dihubungi, Sabtu (22/8/26).

Bukan hanya uang makan. Sejumlah ABK juga disebut belum menerima gaji dalam waktu cukup lama. Teteng menyebut ada pekerja yang sudah enam hingga tujuh bulan belum digaji, sementara dirinya mengaku sekitar satu bulan tidak menerima pembayaran.

Situasi semakin memprihatinkan ketika kebutuhan makanan sempat tidak terpenuhi selama berminggu-minggu. Bantuan kemudian diperoleh setelah Teteng menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Fiji.

“Dua minggu ke belakang pihak KBRI sudah memberikan makanan. Sudah dua kali pihak KBRI memberikan makan kami,” ujarnya.

KBRI juga disebut membantu menyediakan paket data agar para ABK dapat kembali berkomunikasi dengan keluarga di Indonesia.

Teteng mengatakan persoalan tersebut diduga terjadi setelah pemilik perusahaan asal China yang menaungi kapal mereka tidak lagi dapat dihubungi. Namun, ia menegaskan kapal tempatnya bekerja merupakan kapal resmi.

Di tengah ketidakpastian itu, para ABK kini berharap dapat segera dipulangkan ke Indonesia. Mereka tidak ingin terus menunggu tanpa kepastian mengenai gaji, pekerjaan, maupun kebutuhan hidup.

“Daripada kami menunggu di sini tanpa digaji dan terlantar, lebih baik saya minta dipulangkan,” kata Teteng.

Persoalan juga telah disampaikan kepada agen perekrutan yang berkantor di Jakarta. Menurut Teteng, pihak keluarga sejumlah ABK bahkan telah mendatangi agen tersebut, tetapi penyelesaian yang diharapkan belum diperoleh.

Lima ABK asal Sukabumi diketahui berasal dari sejumlah wilayah, yakni Cimaja, Pangsor, Ciaun, Cikembar, dan Cihurang.

Bagi Teteng, pengalaman tersebut merupakan kali pertama dirinya bekerja sebagai ABK. Ia mengaku tidak menyangka pekerjaan di kapal justru membuatnya harus menghadapi situasi terlantar jauh dari tanah air.

“Saya baru pertama kali terjun di dunia kapal. Akhirnya terlantar seperti ini, tidak sesuai dengan yang diharapkan,” ujarnya.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru