Sukabumi Dorong Padi Lokal Janaka-Sikumpay Naik Kelas, Uji Multilokasi Digelar di Kebonpedes

Sukabuminow.com || Dua varietas padi lokal asal Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, Janaka dan Sikumpay, tengah menjalani tahapan penting untuk dipersiapkan menjadi varietas nasional.

Pengujian tersebut dilakukan melalui kegiatan Observasi Fase Generatif Padi Lokal di lahan Gapoktan Mekar Tani, Desa Jambenenggang, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi.

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian uji multilokasi sebagai salah satu tahapan dalam proses pelepasan varietas. Langkah tersebut dinilai strategis karena tidak hanya berkaitan dengan pengembangan benih lokal, tetapi juga menyangkut upaya memperkuat keragaman sumber daya genetik tanaman pangan di tingkat daerah.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi Aep Majmudin mengatakan, observasi dilakukan untuk memperoleh data objektif mengenai karakteristik setiap varietas yang diuji.

“Observasi ini menjadi bagian penting dalam proses pengujian varietas lokal. Data yang diperoleh dari lapangan akan menjadi dasar untuk melihat karakteristik, potensi, serta keunggulan masing-masing varietas secara lebih terukur,” ujar Aep, Jumat (17/7/26).

Menurut dia, pengembangan varietas lokal memiliki nilai strategis bagi Kabupaten Sukabumi. Selain menjadi bagian dari upaya pelestarian sumber daya genetik pertanian, varietas lokal yang memiliki keunggulan juga berpotensi dikembangkan untuk mendukung produktivitas dan kemandirian pangan.

“Ada lima varietas diamati secara berkala. Kelimanya terdiri atas Janaka, Sikumpay, Cupatmanggu, Pajajaran, dan Inpari 32,” jelasnya.

Dari lima varietas tersebut, Janaka dan Sikumpay menjadi fokus utama karena tengah dipersiapkan untuk mengikuti tahapan pelepasan sebagai varietas nasional.

Observasi dilakukan dengan mengambil 100 rumpun sampel. Tim kemudian mengamati berbagai karakter kuantitatif dan kualitatif tanaman padi, mulai dari panjang malai, ukuran gabah, warna gabah, jumlah gabah isi dan gabah hampa, hingga bobot 1.000 butir.

Setiap data yang diperoleh akan dianalisis untuk melihat karakteristik dan potensi varietas yang diuji. Hasil pengamatan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran ilmiah mengenai varietas yang memiliki keunggulan dan layak untuk dikembangkan lebih lanjut.

“Pengujian dilakukan secara bertahap dan berdasarkan data. Harapannya, varietas lokal yang memiliki keunggulan dapat terus dikembangkan melalui proses yang sesuai dengan ketentuan dan kajian ilmiah,” kata Aep.

Observasi ini dilaksanakan melalui kolaborasi lintas lembaga. Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi bekerja sama dengan Tim BRIN Tanaman Pangan, BPSBTPH Provinsi Jawa Barat, penyuluh pertanian Kecamatan Kebonpedes, serta mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI).

Keterlibatan berbagai pihak tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan varietas padi lokal membutuhkan dukungan riset, pengujian lapangan, pendampingan teknis, serta keterlibatan sumber daya manusia di bidang pertanian.

Bagi Kabupaten Sukabumi, pengembangan padi lokal menjadi bagian dari agenda strategis untuk memperkuat sektor pertanian. Dengan luas wilayah dan potensi lahan pertanian yang dimiliki, pengembangan varietas yang sesuai dengan karakteristik lokal dapat menjadi salah satu pilihan dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

Jika seluruh tahapan pengujian dan proses administrasi dapat dilalui sesuai ketentuan, Janaka dan Sikumpay berpeluang menjadi bagian dari kekayaan varietas padi nasional yang berasal dari Kabupaten Sukabumi.

Aep menegaskan, proses tersebut masih harus dijalani secara bertahap dan berbasis hasil pengujian.

“Yang paling penting adalah seluruh proses dilakukan secara objektif, terukur, dan sesuai dengan ketentuan. Kami ingin setiap potensi varietas lokal dapat dikembangkan dengan dasar data yang kuat,” ujarnya.

Pengembangan Janaka dan Sikumpay menjadi varietas nasional juga diharapkan dapat meningkatkan nilai strategis padi lokal Sukabumi. Tidak hanya sebagai kekayaan genetik daerah, tetapi juga sebagai bagian dari upaya memperkuat inovasi pertanian dan ketahanan pangan Indonesia.

Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

POPULER

Terbaru