Kisah Pilu Etin Tinggal di Kandang Domba, Bupati Sukabumi Turun Tangan

Sukabuminow.com || Kisah memilukan datang dari Kampung Babakan Astana, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Seorang wanita bernama Etin (25 th) harus menjalani hari-harinya dengan tinggal di sebuah kandang domba bersama ibunya, Ibah, di tengah kondisi rumah keluarga yang nyaris roboh.

Potret keterbatasan itu pertama kali mencuat melalui pesan berantai di aplikasi perpesanan. Kabar menyayat hati tersebut akhirnya sampai ke telinga Bupati Sukabumi, Asep Japar, yang langsung memerintahkan Camat Palabuhanratu, Deni Yudono, sebagai utusan khusus untuk meninjau lokasi dan memastikan kondisi keluarga Etin, Senin (25/8/25).

Kandang yang Jadi Tempat Berlindung

Setibanya di lokasi, Deni mendapati kenyataan yang membuatnya terdiam. Etin memilih tidur di dalam sebuah kandang domba kecil berdinding papan bekas dan bilah bambu. Atap gentingnya miring, hanya ditopang kayu seadanya. Di depan bangunan rapuh itu, pakaian keluarga dijemur di seutas kayu, sementara selembar spanduk lusuh dijadikan penutup dinding.

Tanah di sekitarnya tampak gersang, berbatu, dan lembap. Etin berdiri di depan kandang dengan daster ungu bermotif bunga, tanpa alas kaki. Tatapannya kosong, menyimpan kisah panjang tentang kesabaran dan kepasrahan hidup dalam keterbatasan.

Di dalam kandang, bau lembap bercampur kotoran ternak memenuhi ruangan sempit berukuran beberapa meter persegi. Di satu sudut, Etin berbaring di atas dipan bambu kecil. Tak jauh darinya, ibunya duduk berselimut kain lusuh, hanya dipisahkan pagar bambu tipis dari beberapa ekor domba yang sedang makan rumput.

Relawan yang Pertama Menemukan

Sebelum pemerintah turun tangan, kisah Etin lebih dulu ditangani oleh seorang relawan sosial Desa Loji, Agus Sugianto. Agus mendapat laporan dari warga bahwa ada seorang perempuan tidur di kandang domba.

“Saya survei pagi harinya, ternyata benar. Etin tidur di kandang domba, sementara rumah ibunya juga tidak layak huni. Kondisinya sangat memprihatinkan. Karena itu saya berharap ada bantuan agar keluarga ini bisa mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak,” kata Agus, Senin (25/8/25).

Agus mengaku terkejut ketika Bupati Sukabumi langsung mengetahui kabar tersebut. Bahkan, saat ia masih berada di lokasi, panggilan video dari bupati masuk dan memperlihatkan kepedulian pemerintah terhadap kondisi Etin.

Pemerintah Siap Memberikan Bantuan

Deni Yudono, membenarkan bahwa kondisi Etin dan ibunya sangat tidak layak. Ia menyebut, selain kandang yang ditempati Etin, rumah yang dihuni ibunya pun rapuh dan tidak bisa menampung seluruh anggota keluarga.

“Ada empat orang dewasa dan satu anak yang tinggal di rumah kakak Etin tanpa fasilitas dasar. Tidak ada kamar mandi, tidak ada penunjang kehidupan yang layak. Ini memang membutuhkan tindak lanjut dari pemerintah,” jelas Deni.

Melalui panggilan video, Bupati Asep Japar sempat berbincang dengan relawan dan melihat langsung kondisi Etin. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak akan tinggal diam.

“Pak Bupati berkomitmen segera memberikan bantuan material bangunan agar kondisi keluarga ini bisa diperbaiki. In Syaa Allah akan segera ditangani,” pungkas Deni.

Harapan Akan Kehidupan yang Lebih Layak

Kisah Etin menyentuh hati banyak pihak. Dari kandang domba yang menjadi tempat berteduh, lahir sebuah harapan agar tangan-tangan kepedulian pemerintah dan masyarakat mampu mengubah nasibnya. Di balik tatapan kosong seorang gadis muda, tersimpan doa sederhana: sebuah rumah layak huni dan kehidupan yang lebih manusiawi.

Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana

BERITA TERKAIT

BANYAK DIBACA

Terbaru