Sukabuminow.com || Sebuah kisah klise penuh drama terjadi di SMAN 1 Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Berawal dari rasa cemburu seorang istri guru, persoalan sederhana berubah menjadi sandiwara yang berujung polemik luas hingga aksi protes para pelajar.
Awalnya, seorang siswi mengunggah foto selfie bersama gurunya ke media sosial. Tak disangka, unggahan tersebut memicu kecemburuan istri sang guru. Demi meredakan suasana rumah tangga, sang guru meminta siswi itu untuk terlibat dalam sebuah rekayasa video. Dalam video tersebut, guru berpura-pura memarahi bahkan menampar siswi, agar terlihat seolah-olah ada penegasan jarak dan tidak ada hubungan terlarang.
Namun, drama yang semula dimaksudkan sebagai klarifikasi pribadi justru menjadi bumerang. Video tersebut tersebar luas, ditonton publik, dan menuai beragam reaksi. Bukannya meredam, sandiwara itu malah memicu gelombang protes dari para siswa.
Pada Senin (25/8/25) pagi, suasana sekolah memanas. Puluhan pelajar berkumpul di halaman SMAN 1 Cicurug sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Stop Kekerasan atas Nama Pendidikan”. Aksi itu direkam dan disebarkan melalui akun Instagram Instastory resmi sekolah, sehingga cepat viral di jagat maya.
Menanggapi kericuhan tersebut, Kepala SMAN 1 Cicurug, Agus Hernawan, akhirnya memberikan klarifikasi. Ia menegaskan bahwa peristiwa penamparan yang terlihat dalam video bukanlah kejadian nyata, melainkan bagian dari skenario yang sengaja dibuat.
“Itu hanya sandiwara. Awalnya siswi mungkin mengidolakan guru tersebut, lalu meminta berfoto selfie. Foto itu diunggah ke Instagram, lalu istrinya mengetahui dan marah. Untuk meredakan kecemburuan, sang guru membuat klarifikasi dengan cara berpura-pura memarahi siswi dalam sebuah video,” jelas Agus melalui sambungan telepon.
Agus juga membenarkan bahwa sejumlah pelajar sempat melakukan aksi protes di lapangan sekolah. Meski begitu, pihak sekolah telah menampung aspirasi pelajar melalui audiensi bersama para wakil kepala sekolah.
“Sudah ada edukasi, audiensi, dan ngobrol bersama anak-anak. Jadi persoalan ini sudah ditangani,” tambahnya.
Lebih lanjut, Agus menyebut masalah tersebut juga sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Pihak siswi dan orang tua telah diajak berdialog, bahkan dibuatkan surat pernyataan hitam di atas putih sebagai bukti penyelesaian.
“Sebelumnya sudah dibicarakan dengan keluarga siswi. Memang sempat ada rasa tersinggung, tetapi akhirnya sudah selesai dengan pernyataan resmi. Ada bukti dan foto dokumentasi,” ungkapnya.
Meski telah ada klarifikasi resmi, kisah ini terlanjur menjadi sorotan publik. Drama yang dimulai dari sebuah foto selfie, berubah menjadi sandiwara video, lalu berakhir dengan aksi protes, meninggalkan catatan bahwa klarifikasi yang dibungkus “sandiwara” justru berpotensi menghadirkan riuh yang lebih besar.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana
