Bencana Beruntun di Sukabumi Selatan, Tiang Listrik Roboh hingga Sawah Terendam di Kawasan CPUGGp
Sukabuminow.com || Cuaca ekstrem yang melanda wilayah selatan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada Minggu (24/5/26), memicu rangkaian bencana hidrometeorologi yang melumpuhkan akses transportasi, mengganggu jalur wisata nasional menuju Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark (CPUGGp), hingga merendam lahan pertanian warga.
Hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur kawasan Pajampangan dan Ciemas sejak siang hingga malam menyebabkan longsor besar, banjir luapan sungai, tiang listrik roboh, serta kerusakan fasilitas umum di sejumlah titik strategis jalur selatan Sukabumi.
Situasi paling parah terjadi di ruas jalan utama menuju kawasan wisata UNESCO Global Geopark Ciletuh-Palabuhanratu yang terputus total akibat longsor dan genangan banjir bercampur lumpur.
Longsor Besar Putus Jalur Wisata Geopark Ciletuh
Bencana longsor berskala besar terjadi di kawasan hutan lindung Cipeucang, tepatnya di Jalan Raya Provinsi ruas Mareleng–Tamanjaya–Palangpang KM 208+800, Desa Mekarsakti, Kecamatan Ciemas.
Tebing perbukitan ambrol sekitar pukul 19.00 WIB setelah hujan deras turun tanpa henti sejak sore hari. Material longsor berupa tanah pekat dan bongkahan batu besar menutup badan jalan sepanjang sekitar 30 meter.
Akibatnya, akses penghubung menuju kawasan wisata Geopark Ciletuh lumpuh total dan tidak bisa dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Mandor Jalan Pengawas Provinsi, Edi, mengatakan proses penanganan tidak bisa dilakukan secara manual karena besarnya volume longsoran.
“Material longsoran cukup besar sehingga mutlak membutuhkan alat berat untuk proses evakuasi,” ujarnya.
Menurut Edi, kawasan Tanjakan Cipeucang memang dikenal sebagai zona rawan pergerakan tanah karena berada di area perbukitan curam dan hutan lindung.
Hingga Minggu malam, petugas gabungan bersama relawan dan warga masih bersiaga di lokasi sambil memasang tanda peringatan darurat guna mengantisipasi longsor susulan.
Tiang Listrik Roboh, Jalur Loji–Palangpang Macet Total
Tak hanya longsor, hujan deras dan angin kencang juga menyebabkan sebuah tiang jaringan listrik roboh dan melintang di tengah Jalan Raya Provinsi ruas Loji–Palangpang, kawasan Puncak Dini, Desa Girimukti, Kecamatan Ciemas.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 16.10 WIB itu membuat arus kendaraan dari dua arah tersendat karena badan jalan tertutup tiang beton.
Pengguna jalan, Mohammad Piat Supriatna, mengaku situasi sempat menegangkan karena tiang listrik roboh secara tiba-tiba di tengah cuaca buruk.
“Tiang listrik tiba-tiba roboh ke jalan saat hujan dan angin cukup kencang. Kendaraan harus antre karena pengendara harus hati-hati melintas,” katanya.
Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Namun, arus lalu lintas menuju kawasan wisata selatan Sukabumi mengalami antrean panjang akibat kendaraan harus melintas bergantian.
Mandor Jalan Loji, Erus Ruswandi, membenarkan peristiwa tersebut terjadi di titik Kilometer Bandung 169+900 dan sempat membuat kendaraan roda empat tidak bisa melintas.
Banjir dan Longsor Kepung Jalur Simpenan–Loji
Bencana serupa juga terjadi di Kecamatan Simpenan. Hujan deras berjam-jam memicu longsor dan banjir yang menghambat jalur utama menuju Geopark Ciletuh via Loji.
Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) Simpenan, Dandi Sulaeman, mengatakan longsor paling parah terjadi di area PAUD Al Hadi, Kampung Cimapag, Desa Loji.
“Tanggul Penahan Tanah sekolah PAUD Al Hadi tergerus longsor dengan tinggi sekitar 8 meter dan lebar 10 meter. Material longsor menimpa bahu jalan nasional ruas Bagbagan-Kiaradua,” ujarnya.
Material longsor membuat arus lalu lintas diberlakukan sistem buka-tutup karena sebagian badan jalan tertutup tanah dan kondisi aspal sangat licin.
Selain longsor, banjir juga menggenangi sejumlah ruas jalan penting di wilayah Simpenan. Jalur provinsi Loji menuju Geopark Ciletuh dilaporkan terendam air setinggi 30 hingga 40 sentimeter.
Kondisi tersebut memaksa pengendara mengurangi kecepatan kendaraan karena arus air cukup deras dan berisiko menyebabkan kendaraan mogok atau terseret arus.
“Ruas jalan penghubung Loji–Geopark dan Bagbagan–Cimapag masih tergenang banjir di beberapa titik. Kendaraan masih bisa melintas, tetapi harus bergantian,” jelas Dandi.
Di Desa Cihaur, hujan deras juga menyebabkan atap dapur rumah warga ambruk akibat struktur bangunan yang lapuk dan tidak mampu menahan derasnya air hujan.
Sungai Cimarinjung Meluap, Sawah Terancam Gagal Panen
Sementara itu, meluapnya Sungai Cimarinjung memperparah kondisi di Kecamatan Ciemas. Banjir merendam perbatasan Desa Ciwaru dan Desa Ciemas hingga memutus akses menuju kawasan homestay Kampung Cimarinjung.
Air bercampur lumpur pekat meluber ke badan jalan utama jalur Geopark Ciletuh dengan ketinggian mencapai lutut orang dewasa.
Selain menghambat aktivitas warga dan wisatawan, banjir juga merendam puluhan hektare lahan persawahan yang siap panen.
Tanaman padi yang sudah menguning roboh tertimbun lumpur sehingga memicu ancaman gagal panen massal dengan potensi kerugian mencapai ratusan juta rupiah.
Warga Kampung Cimarinjung, Ajid, menyebut banjir yang terus berulang dipicu pendangkalan Sungai Cimarinjung dan buruknya sistem drainase.
“Pendangkalan Sungai Cimarinjung sudah lama terjadi dan makin parah karena endapan lumpur dari hulu. Kami berharap ada normalisasi sungai agar banjir tidak terus berulang,” katanya.
Ia juga meminta pemerintah segera melakukan pengerukan sungai dan perbaikan saluran irigasi untuk mencegah banjir semakin meluas dan merugikan masyarakat.
Warga Diminta Waspada Cuaca Ekstrem
Hingga Minggu malam, petugas gabungan dari pemerintah daerah, BPBD, P2BK, TNI-Polri, Tagana, relawan kebencanaan, dan warga masih berjibaku melakukan penanganan darurat di sejumlah titik terdampak.
Masyarakat yang tinggal di kawasan perbukitan, bantaran sungai, dan jalur rawan longsor diminta meningkatkan kewaspadaan karena hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi mengguyur wilayah selatan Sukabumi.
Selain menjadi ancaman keselamatan warga, bencana hidrometeorologi yang berulang di kawasan Geopark Ciletuh juga menjadi perhatian serius karena berdampak langsung terhadap akses wisata unggulan nasional, aktivitas ekonomi masyarakat, dan sektor pertanian di Sukabumi Selatan.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana




