Korban Banjir Bandang Cidadap Sukabumi Belum Terima Bantuan Kontrakan Rumah KDM
Sukabuminow.com || Puluhan warga korban banjir bandang Sungai Cidadap di Kampung Babakan Cisarua, Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, hingga kini masih hidup dalam keterbatasan. Satu tahun berlalu sejak bencana besar melanda wilayah tersebut, namun para korban mengaku belum menerima bantuan kontrakan rumah dari Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagaimana informasi yang beredar di masyarakat.
Banjir bandang yang terjadi berulang sejak 2024 telah meratakan permukiman warga di RT 02/15 Kampung Babakan Cisarua. Sejumlah rumah ambruk, hanyut, dan tertimbun material pasir serta lumpur. Kondisi terparah terjadi pada akhir Desember 2025, yang nyaris menghilangkan satu kampung dari peta permukiman.
Di tengah kondisi tersebut, warga mengaku kecewa karena belum menerima bantuan biaya kontrakan rumah senilai Rp10 juta yang disebut-sebut bersumber dari KDM. Bantuan itu dinilai sangat dibutuhkan sebagai solusi sementara bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Berdasarkan informasi yang dihimpun warga, bantuan kontrakan rumah KDM tersebut justru diterima oleh 23 kepala keluarga di Kampung Sawah Tengah, wilayah yang disebut baru satu kali terdampak bencana pada 2025. Sementara itu, warga Babakan Cisarua yang telah mengalami bencana berulang sejak 2024 mengaku belum tersentuh bantuan serupa.
“Di sini kami hanya ingin menyampaikan keluhan dan isi hati warga. Bencana paling besar justru terjadi di Kampung Babakan Cisarua. Sejak 2024 sudah tiga kali banjir bandang dan longsor, tetapi sampai sekarang kami belum mendapat bantuan kontrakan,” ujar Wulan, perwakilan warga, Kamis (8/1/25).
Ia menjelaskan, banjir pertama terjadi pada Desember 2024, disusul banjir bandang pada Maret 2025, dan yang paling parah pada Desember 2025. Bencana terakhir tersebut menghanyutkan rumah-rumah warga hingga kawasan permukiman nyaris tidak lagi layak huni.
“Pada Desember 2025, ada lima kampung di Kedusunan Kawungluwuk yang terdampak. Namun, yang paling parah itu Kampung Babakan Cisarua,” katanya.
Hal senada disampaikan Ketua RT 02 Kampung Babakan Cisarua, Heri. Ia menuturkan bahwa wilayahnya merupakan titik awal terparah banjir bandang Sungai Cidadap pada Maret 2025.
“Banjir besar itu terjadi menjelang waktu berbuka puasa. Air sungai meluap dan rumah-rumah warga roboh dalam waktu singkat,” ujarnya.
Menurut Heri, sedikitnya 13 rumah hancur total. Jika digabung dengan rumah rusak berat dan puing-puing bangunan, total terdampak mencapai sekitar 48 rumah dengan 48 kepala keluarga. Ia mengaku telah berulang kali menyampaikan kondisi tersebut kepada pemerintah desa dan pihak terkait, namun hingga kini belum ada kejelasan tindak lanjut.
“Kami berharap Pak Gubernur Dedi bisa meninjau langsung ke lokasi. Warga saya ada yang terpaksa tidur di puing-puing rumah. Sementara ada warga di tempat lain yang rumahnya masih berdiri, justru menerima bantuan kontrakan rumah KDM,” ucapnya.
Heri menambahkan, kondisi tersebut berdampak besar terhadap psikologis warga. Sebagian terpaksa menumpang di rumah kerabat, sementara lainnya bertahan di lokasi bencana karena keterbatasan ekonomi.
“Sudah satu tahun kami hidup dalam ketidakpastian. Harapan kami sederhana, ada kejelasan bantuan dan solusi tempat tinggal yang layak,” pungkasnya.
Reporter: Edo
Redaktur: Andra Permana




