Sukabuminow.com || Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, kembali menjadi salah satu daerah dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di Indonesia. Sepanjang Mei 2026, wilayah terluas di Jawa Barat itu mencatat 165 kejadian bencana hidrometeorologi yang tersebar di berbagai kecamatan.
Tingginya angka kejadian tersebut menjadi gambaran nyata bahwa ancaman cuaca ekstrem masih membayangi masyarakat Sukabumi meskipun sebagian wilayah Indonesia mulai memasuki masa peralihan musim.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, bencana yang terjadi selama satu bulan terakhir didominasi oleh tanah longsor, disusul banjir dan cuaca ekstrem yang dipicu hujan berintensitas tinggi serta angin kencang.
Manager Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) Penanggulangan Bencana BPBD Kabupaten Sukabumi, Daeng Sutisna, mengatakan kondisi cuaca sepanjang Mei 2026 masih menunjukkan karakteristik ekstrem yang berdampak langsung terhadap meningkatnya frekuensi kejadian bencana.
“Hingga Mei kondisi cuaca memang cukup ekstrem yang ditandai masih tingginya curah hujan disertai angin kencang. Hasil rekapitulasi laporan, selama Mei 2026 terdapat 165 kejadian bencana di Kabupaten Sukabumi,” kata Daeng, Senin (1/6/26).
Dari total 165 kejadian yang tercatat, tanah longsor menjadi bencana paling dominan dengan jumlah mencapai 104 kejadian.
Kondisi geografis Kabupaten Sukabumi yang didominasi perbukitan, pegunungan, serta kawasan dengan kemiringan lereng yang cukup tinggi menjadikan wilayah ini sangat rentan terhadap longsor ketika hujan turun dalam durasi panjang.
Selain longsor, BPBD juga mencatat:
32 kejadian cuaca ekstrem
24 kejadian banjir
4 kejadian pergerakan tanah
1 kejadian banjir bandang
Sebaran kejadian tersebut menunjukkan bahwa ancaman hidrometeorologi masih menjadi tantangan utama bagi pemerintah daerah maupun masyarakat di berbagai wilayah Sukabumi.
Besarnya dampak bencana tidak hanya terlihat dari jumlah kejadian, tetapi juga kerusakan yang ditimbulkan.
BPBD mencatat sedikitnya 55 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat kerusakan yang beragam.
Rinciannya meliputi:
21 rumah rusak ringan
19 rumah rusak sedang
15 rumah rusak berat
Selain itu, terdapat 54 rumah dalam kondisi terancam akibat potensi bencana susulan, sementara 475 rumah lainnya sempat terendam banjir.
Data tersebut memperlihatkan bahwa ribuan warga masih berada dalam kondisi rentan ketika cuaca buruk kembali terjadi.
Tidak hanya permukiman warga, berbagai fasilitas umum dan infrastruktur vital juga mengalami kerusakan akibat rentetan bencana yang terjadi selama Mei.
BPBD mencatat kerusakan pada:
64 titik infrastruktur jalan
5 titik jembatan
11 titik saluran air
3 fasilitas kesehatan
8 fasilitas pendidikan
Kerusakan infrastruktur tersebut berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, layanan kesehatan, hingga mobilitas masyarakat, terutama di wilayah yang akses jalannya masih bergantung pada jalur-jalur penghubung antardesa dan antarkecamatan.
Di balik kerusakan fisik yang terjadi, bencana juga berdampak langsung terhadap keselamatan warga.
BPBD mencatat terdapat dua orang mengalami luka-luka akibat berbagai kejadian bencana yang terjadi sepanjang Mei 2026.
Sementara itu, sebanyak 70 kepala keluarga atau 169 jiwa terpaksa mengungsi untuk menghindari risiko yang lebih besar akibat ancaman longsor, banjir, maupun cuaca ekstrem.
Situasi ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor penting dalam meminimalkan korban ketika bencana terjadi secara tiba-tiba.
Meski sebagian wilayah mulai memasuki masa transisi menuju musim kemarau, BPBD Kabupaten Sukabumi menegaskan bahwa potensi hujan masih dapat terjadi sewaktu-waktu.
Karena itu, seluruh jajaran BPBD tetap berada dalam status siaga untuk menghadapi kemungkinan terjadinya bencana susulan.
Daeng menjelaskan bahwa BPBD memiliki jaringan Petugas Penanggulangan Bencana Kecamatan (P2BK) yang tersebar di seluruh kecamatan sebagai ujung tombak penanganan dan pelaporan kejadian di lapangan.
“Dalam situasi dan kondisi cuaca apa pun, BPBD harus selalu siap siaga. Di setiap kecamatan kita punya P2BK yang merupakan kepanjangan tangan BPBD,” pungkasnya.
Reporter: Andry Hidayat
Redaktur: Andra Permana
